> >

Alasan Vaksin Booster Kedua Tetap Penting Meski Kasus Covid-19 Melandai

Update corona | 25 Januari 2023, 14:30 WIB
Seorang warga Jakarta menerima vaksin booster Pfizer, 29 Maret 2022. Vaksin booster kedua sudah dibuka untuk umum per 24 Januari 2023. (Sumber: Adek Berry/AFP)

 

JAKARTA, KOMPAS.TV – Vaksin Covid-19 booster kedua sudah bisa diperoleh masyarakat sejak Selasa (24/1/2023) kemarin. Namun muncul pertanyaan seberapa penting suntikan tersebut di saat kasus Covid-19 sudah landai?

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menuturkan, vaksin booster kedua penting lantaran penurunan dari proteksi vaksinasi Covid-19 sebelumnya.

Hal ini yang kemudian membuat orang menjadi rentan dengan kedatangan subvarian Covid-19 yang memang semakin efektif dalam menginfeksi dan menerobos antibodi seperti yang terjadi di Amerika di China, terutama bagi kelompok berisiko tinggi.

“Mereka menjadi korban dan dalam hal ini ada sebagian dari mereka yang akan fatal, yang meninggal itu makanya penting untuk memberikan vaksin booster kedua,” ujar Dicky saat dihubungi Kompastv, Selasa (24/1/2023).

Di samping itu, vaksinasi Covid-19 booaster kedua ini menjadi penting untuk mencegah adanya korban jiwa, dan negara dalam hal ini berkewajiban melindungi warganya.

“Kewajiban negara melindungi jangan sampai orang meninggal karena wabah ini. Itu merupakan kewajiban serta tanggung jawab pemerintah,” ujarnya.

Tak hanya itu, menurut Dicky, vaksinasi Covid-19 booster kedua ini juga untuk menjaga stabilitas dalam program pemulihan sektor ekonomi dan sosial-politik.

Baca Juga: Kasus Naik, Presiden Jokowi Jalani Vaksin Booster Kedua Sebelum Kunjungi Lagi Lokasi Gempa Cianjur

Ancaman baru dari Long Covid

Saat ini, risiko terhadap Covid-19 dibandingkan awal pandemi 2020 sangat jauh berbeda, apalagi setelah ditemukannya vaksin untuk modal imunitas. Namun, bukan berarti dampak Covid-19 benar-benar sudah hilang.

“Saat ini utama dampak dari covid ini bukan lagi di keparahan peningkatan kasus atau keterisian rumah sakit atau tingkat kematian. Tapi ini berganti dengan ancaman long covid. Di mana infeksi yang berulang dari covid itu akan berpotensi menurunkan kualitas kesehatan seseorang,” ujarnya.

Artinya, kasusnya mungkin tidak tampak meningkat di masyarakat, bahkan PPKM dicabut dan tidak wajib lagi memakai masker, tapi dalam 2 hingga 5 tahun ke depan kasus diabetes, hipertensi, jantung dan stroke meningkat.

“Jadi orang yang sakit-sakitan, dia menjadi orang yang akhirnya menderita penyakit kronis itu. Ini mulai terjadi sebetulnya tapi di Indonesia karena surveilans, deteksi, laporan kematian kita kan lemah, bahkan cenderung buruk,” ujarnya.

Epidemiolog Dicky Budiman menilai vaksin booster penting untuk melindungi keparahan kematian dan long covid. (Sumber: Kompas TV/Istimewa)

Untuk itu, kondisi tersebut yang harus dicegah dan dibangun kewaspadaan kesadaran ini oleh pemerintah karena kalau tidak, di Indonesia mungkin tidak mengalami gelombang yang serius tapi mengalami penurunan derajat Kesehatan.  

Pasalnya, setidaknya sepersepuluh dari penduduk yang pernah terinfeksi Covid-19 akan mengalami long covid.

Di sisi lain, Dicky juga menyadari masih ada perbedaan pengetahuan tentang pentingnya vaksin, terutama Vaksin Covid-19. Mengingat, literasi yang rendah berdampak ke cakupan vaksinasi yang juga rendah.

“Contohnya vaksin serviks untuk mencegah kanker serviks itu saja cakupannya buruk sekali ya karena salah satunya adalah literasi yang rendah,” ujarnya.

Lantas, bagaimana meyakinkan warga agar mau vaksin booster kedua?

Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam mencari solusi dalam permasalahan kesadaran vaksinasi. Apalagi, permasalahan itu akan berbeda tiap wilayah Indonesia.

“Makanya dalam pendekatan ilmiah ada namanya need assessment atau melakukan pendekatan dengan ottawa charter. Dari situ akan diketahui misalnya kalau dari sisi akses itu ada, terus dari sisi jadwal,” tuturnya.

Kemudahan akses

Dengan kata lain, kemudahan akses menjadi penting untuk mendorong orang mau vaksin booster kedua.

“Kalau ada layanan vaksinasi tapi jauh dari tempat tinggalnya yang artianya aksesnya terbatas, negara harus proaktif, harus door to door atau mendatangi RT atau RW atau memnfaatkan posyandu lansia untuk menjangkau cakupan vaksinasi,” tutur Dicky.

Menjawab literasi yang keliru

Kemudian yang tidak boleh disepelekan adalah pemahaman yang salah atau terpengaruh dengan infodemic dengan teori konspirasi atau hoaks.  

“Ini yang harus di-address atau dijawab dengan memberikan penjelasan untuk menjawab apa konsennya, sebut saja misalnya dari bahannya apakah ini halal haram. Itu kita harus dijawab sesuai apa yang menjadi permasalahan atau keingintahuan keraguan seseorang,” ujarnya.

Bisa juga dengan melibatkan peran tokoh masyarakat, tokoh agama, kader kesehatan posyandu lansia sehingga setiap individu itu mendapat jawaban atau mendapatkan akses penjelasan terkait vaksin.

Penulis : Fransisca Natalia Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas TV


TERBARU