> >

Wahai Orang Tua, Hindari Jadi Strict Parents, Simak Penyebab dan Pemicunya

Gaya hidup | 6 Juli 2022, 19:40 WIB
Ilustrasi orang tua strict parents. (Sumber: immunifyme.com)

YOGYAKARTA, KOMPAS.TV - Pengalaman sama yang dirasakan orang dewasa saat masih kanak-kanak, disebut sebagai pemicu utama orang dewasa menjadi strict parents atau orang tua yang kaku dan ketat terhadap anak-anak mereka.

Melansir Gramedia, selain pengalaman yang sama, ada beberapa hal lain yang dapat memicu orang tua menerapkan pola asuh yang otoriter hingga menjadi sosok strict parents. Di antaranya yakni memiliki kepribadian atau sifat yang kurang menyenangkan, dan memiliki neurotisme yang tinggi.

Anak-anak yang diasuh oleh orang tua otoriter, akan cenderung menerapkan pola asuh yang sama ketika mereka menjadi orang tua.

Mereka menganggap, menjadi strict parents merupakan langkah yang tepat untuk membuat anak menjadi lebih disiplin.

Baca Juga: 9 Ciri Strict Parents, Minim Kasih Sayang hingga Kerap Permalukan Anak

Selain itu, orang-orang dengan kepribadian atau sifat yang kurang menyenangkan juga cenderung akan menjadi sosok strict parents.

Orang yang kurang memiliki empati atau selalu memiliki pikiran negatif terhadap orang lain berpeluang lebih besar menjadi strict parents.

Sebab, mereka akan merasa kesulitan membangun hubungan dekat dengan orang lain, bahkan anak-anak mereka sendiri.

Faktor lain yang dapat menyebabkan orang menjadi strict parents ialah tingkat neurotisme yang tinggi.

Neurotisme adalah dimensi kepribadian yang berkaitan dengan kestabilan emosi seseorang.

Neurotisme ditandai dengan munculnya kecemasan, keraguan, memiliki perasaan negatif terhadap berbagai macam hal, maupun depresi.

Sebagian orang tua mungkin masih percaya bahwa cara pengasuhan yang ketat dapat membuat anaknya menjadi sosok yang lebih hebat di masa depan. Padahal, pola asuh strict parents justru dapat berdampak negatif pada anak.

Baca Juga: 5 Dampak Strict Parents Terhadap Anak: Suka Berbohong hingga Jadi Pelaku Bullying

Gaya asuh strict parents umumnya cenderung otoriter. Artinya, orang tua bertindak sewenang-wenang terhadap anak dan tidak membuka ruang diskusi dengan anaknya.

Orang tua bisa saja memberikan standar tinggi kepada anak. Namun, hal ini sebaiknya disertai dengan dukungan serta kasih sayang, sehingga tercipta gaya asuh otoritatif. Gaya asuh tersebut umumnya akan membuat anak menjadi sosok yang lebih baik. 

 

Penulis : Nadia Intan Fajarlie Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas TV/Gramedia.com


TERBARU