> >

Benarkah Makan Daging Berkorelasi dengan Pemanasan Global?

Gaya hidup | 6 Juni 2022, 13:30 WIB
Ilustrasi - Daging bisa berkorelasi dengan pemanasan global. (Sumber: Tribunnews.com/Irwan Rismawan)

SOLO, KOMPAS.TV – Memakan daging bisa jadi tak pernah terpikirkan menjadi satu dari sekian faktor yang menyebabkan pemanasan global. Penyebab pemanasan global yang banyak diketahui adalah emisi dari gas kendaraan bermotor dan asap sisa kegiatan industri.

Seperti yang sudah banyak dipahami, pemanasan global adalah masalah bersama yang harus diatasi karena dapat menyebabkan berbagai dampak buruk bagi lingkungan dan ekosistem lainnya karena adanya perubahan iklim dunia.

Contohnya, curah hujan yang tinggi, kegagalan panen, hilangnya terumbu karang, kepunahan berbagai spesies, hingga penipisan lapisan ozon pada atmosfer bumi.

Bagaiman daging bisa menyebabkan pemanasan global?

Konsumsi daging menyebabkan pemanasan global karena daging meningkatkan emisi gas. Jumlah emisi gas akibat konsumsi daging di setiap negara berbeda-beda.

Melansir dari BBC, sumbangan gas rumah kaca dari daging mencapai lebih dari 14 persen dari seluruh gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia.

Daging melepaskan gas rumah kaca ke atmosfer dan menyebabkan pemanasan global dengan beberapa mekanisme sebagai berikut:

  • Deforestasi untuk lahan ternak
  • Penggunaan pupuk dan pakan ternak
  • Pelepasan gas rumah kaca ketika hewan ternak mencerna makanannya

Lebih lanjut, sapi adalah hewan memamah biak. Mereka mengunyah rumput dan tanaman secara berulang dan menyebabkan terjadinya fermentasi di dalam saluran pencernaannya.

Saat sapi bersendawa, sapi mengeluarkan gas metana.

Baca Juga: Digelar September, The 8th IIGCE 2022 akan Bahas Pemanasan Global yang Makin Meningkat

Jumlah emisi gas belum diketahui secara pasti

Menghitung emisi gas rumah kaca akibat konsumsi daging sangat rumit karena pengukuran tidak bisa hanya menghitung proses peternakan saja.

Gas rumah kaca yang dihasilkan dari proses memotong daging, pengepakan, dan transportasi juga termasuk ke dalam emisi gas rumah kaca akibat daging sapi.

Yang pasti gas rumah kaca yang dihasilkan daging sapi dibandingkan daging ternak lainnya jauh lebih besar. Daging mengeluarkan gas rumah kaca, seperti metana, karbon dioksida, dan nitrogen oksida.

Sebagai perbandingan, kambing mengeluarkan gas rumah kaca 50 persen lebih rendah dibandingkan sapi. Sedangkan, daging ayam memiliki emisi gas rumah kaca yang jauh lebih rendah dibandingkan kambing.

 Apa yang bisa dilakukan?

Dampak lingkungan yang timbul akibat makanan yang kita konsumsi sangat rumit. Gas yang dihasilkan bisa bervariasi berdasarkan sumber makanan dan terus berubah-ubah.

Hal yang bisa kita lakukan adalah mengurangi konsumsi daging dan produk susu. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah membiasakan diri untuk menghabiskan makanan yang dikonsumsi untuk mencegah menumpuknya sampah makanan yang terus menggunung.

Menerapkan kedua langkah tersebut dalam pola makan kita sehari-hari bisa menjadi langkah awal kita mengurangi pemanasan global.

Penulis : Fransisca Natalia Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas TV/Kompas.com


TERBARU