> >

Sepenggal Kisah Sirkuit Mandalika: Keindahan yang Sempat Tak Dilirik Pemerintah Pusat

Peristiwa | 12 Februari 2022, 08:29 WIB
Foto udara tikungan ke 17 lintasan Pertamina Mandalika International Street Circuit saat matahari terbenam di KEK Mandalika, Kuta, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (14/10/2021). (Sumber: Kompas.tv/Ant)

JAKARTA, KOMPAS.TV- Para pembalap dunia yang tengah menjalani tes pramusim MotoGP di Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), sepertinya lebih cocok disebut sedang berlibur.

Tengoklah postingan berbagai akun media sosial mereka yang sedang heboh bahkan terus menjadi trending topic

Berbagai keseruan selama di Mandalika dibagikan. Mulai dari keindahan pantai hingga bukit, aneka makanan dan minuman, dan tentu saja sirkuit baru berkelas wahid yang membuat para rider berdecak kagum. 

Bagi masyarakat Lombok, bahkan Indonesia pada umumnya, MotoGP benar-benar bak cerita Cinderela.

Betapa tidak, negara ini memang sangat gandrung dengan ajang balap motor paling bergengsi itu. 
Namun selama ini, kebanyakan kita hanya bisa menonton dari depan layar kaca. 

Berkat usaha gigih berbagai kalangan, kini MotoGP benar-benar hadir di Indonesia. 

Namun tak banyak yang mengetahui, bahwa Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, yang mencakup area sirkuit, hotel, hamparan bukit, dan pantai di dalamnya hampir saja ditinggalkan pemerintah.

Baca Juga: Soal Trek Sirkuit Mandalika yang Kotor, Loris Capirossi: Hal Normal untuk Lintasan Baru

Adalah Taufan Rahmadi, pemerhati pariwisata Indonesia, salah seorang yang mengetahui betul perjalanan sirkuit tersebut sedari awal.

”Saya ingat, 19 Agustus 2015 ada berita nasional, Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli berbicara pariwisata nasional,” kata Taufan.

Benar saja, pada tanggal itu, sejumlah media nasional memang mengangkat tajuk yang dimaksud. Inti berita tersebut adalah, pemerintah mendorong tujuh destinasi top andalan Indonesia.

”Yang buat miris, Lombok tidak masuk,” kenangnya.

Seketika itu Taufan memutar otak. Setelah menghadap Gubernur HM Zainul Majdi, Taufan yang kala itu menjabat ketua BPPD (Badan Promosi Pariwisata Daerah) NTB meminta izin menemui sang menteri.

”Saya tungguin tuh pak menteri, waktu itu lagi ada acara sama dubes Jepang,” ceritanya.

Tak disangka Rizal Ramli menerimanya dengan baik. Mereka bahkan sempat satu mobil.

”Saya duduk di depan bareng sopir, pak menteri di belakang, ajudannya malah disuruh pindah ke mobil patwal,” ujar Taufan. 

Momen berkesan selama dalam kendaraan itu pun tak lupa diabadikannya. Kesempatan yang cukup singkat selama dalam kendaraan itu dimanfaatkan betul.

Dia mempertanyakan mengapa Lombok tak masuk destinasi andalan Indonesia yang akan dikembangkan.

”Saya jelaskan, di Lombok ini ada KEK Mandalika yang sudah dimulai sejak era Presiden SBY,” ujarnya meyakinkan.

Singkat cerita, mendengar pemaparannya, sang menko memberi pun harapan. Kepada Taufan, Rizal Ramli saat itu lantas meminta dipertemukan dengan gubernur.

”Sekembalinya dari Jakarta, langsung saya menghadap Pak TGB,” kenang Taufan.  

TGB adalah sapaan buat gubernur NTB, Tuan Guru Bajang.     

Baca Juga: Kata MGPA soal Tes MotoGP yang Sempat Dihentikan karena Lintasan Sirkuit Mandalika Kotor

Gayung bersambut, TGB kata Taufan,  juga langsung merespons cepat peluang itu. Gubernur dan jajaran bergerak secara sistematis mendorong Mandalika masuk dalam destinasi utama.

Tak berselang lama, tepatnya 19 November 2015, TGB dan Rizal Ramli bertemu. 

Rekam jejak pertemuan itu masih dapat dijumpai dalam sejumlah portal media online.

”Akhirnya Rizal Ramli memasukkan Mandalika dalam 10 destinasi prioritas, atau yang dulunya disebut '10 Bali Baru', kita bersyukur sekali,” ujar Taufan.

Kemudian ditindaklanjuti Menteri Pariwisata saat itu Arief Yahya dengan membentuk Tim Percepatan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas.

”Saya ditunjuk sebagai PIC Mandalika,” kenang Taufan.

Salah satu ide pertamanya kala itu adalah mengusulkan pembangunan Masjid Mandalika. Diceritakan, saat itu dia bersama dirut ITDC (Indonesia Tourism Development Corporation), menghadap Gubernur TGB.

”Kami minta kesediaan beliau memberi nama, dan dinamai Masjid Nurul Bilad, Mandalika,” ujarnya.

Baca Juga: Curah Hujan Sirkuit Mandalika Tinggi, Bamsoet: Jangan Panggil Pawang, biar Jadi Tantangan

Singkat cerita, Mandalika pun berkembang seperti saat ini. Ide MotoGP disebutnya bermula dari Menteri Arief Yahya. Mantan menteri itu disebut Taufan termasuk orang yang memiliki peranan penting.

Awalnya, ada keingin untuk F1, namun dengan berbagai pertimbangan, diputuskan mendorong MotoGP dulu. 

”Alhamdulillah, sekarang (Marc) Marquez sudah bisa foto-foto di Mandalika,”  kata Taufan sambil terkekeh.

Sebagai bagian dari pelaku sejarah Sirkuit Mandalika, Taufan mengingatkan, banyak andil berbagai kalangan yang tak boleh dilupakan. Mulai dari bupati terdahulu, gubernur terdahulu, menteri pariwisata terdahulu, menko maritim terdahulu, hingga presiden terdahulu.

"Ini benar-benar kerja besar dan kerja sama semua pihak," tutupnya.

Penulis : Iman Firdaus Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV


TERBARU