> >

Megawati Ulang Tahun ke-75: Pengelola SPBU yang Terjun Politik hingga Jadi Presiden Wanita Pertama

Peristiwa | 23 Januari 2022, 10:19 WIB
Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri yang pada 23 Januari ini berulang tahun. (Sumber: KOMPAS/RODERICK ADRIAN MOZES)

SOLO, KOMPAS.TV — Hari ini 23 Januari adalah hari ulang tahun Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri.

Putri Presiden ke-1 RI Soekarno dan Fatmawati ini lahir pada 23 Januari 1947 dengan nama lengkap Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri.

Kini genap berusia 75 tahun, dalam perjalanan usianya Megawati dikenal aktif dalam dunia politik. Mulai dari sebagai presiden perempuan pertama Republik Indonesia (RI) hingga Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP).

Megawati lahir di Kampung Ledok Ratmakan, Kota Yogyakarta. Hari kelahirannya diketahui bertepatan dengan adanya Agresi Militer Belanda. Saat Megawati lahir, Soekarno sedang diasingkan di Pulau Bangka.

Kala Indonesia telah merdeka secara penuh, sosok Megawati kemudian pindah ke Jakarta dan tumbuh besar di sana hingga kemudian melahirkan Puan Maharani yang juga mengikuti langkahnya di dunia politik.

Kehidupan Pribadi

Melansir Kompas.com, Megawati menikah pada 1 Juni 1968 dengan Lettu AURI Surindro Supjarso di kediaman Fatmawati di Jalan Sriwijaya Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Setelah menikah, Megawati tinggal jauh dari Jakarta. Mereka tinggal di kompleks Angkatan Udara, Madiun, Jawa Timur.

Dari pernikahannya itu, ia dikaruniai dua orang putra yakni Mohammad Rizki Pratama dan Mohammad Prananda.

Baca Juga: Megawati Respons Permintaan Bantuan Dorce Gamalama, Beri Sumbangan untuk Berobat

Namun suaminya kemudian meninggal akibat kecelakaan penerbangan saat pesawat yang dikemudikannya terempas ke laut di sekitar perairan Pulau Biak, Irian Jaya, tepat sehari sebelum ulang tahun Megawati ke-23.

Megawati kemudian menikah dengan diplomat Mesir yang bertugas di Jakarta, Hassan Gamal Ahmad Hasan. Namun pernikahan itu hanya bertahan tiga bulan.

Pernikahan selanjutnya adalah dengan Taufiq Kiemas, yang merupakan temannya saat menjadi aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Dari pernikahan inilah Puan Maharani terlahir.

Pendidikan Megawati

Megawati kecil, menghabiskan masa sekolahnya di Perguruan Cikini Jakarta selama SD- SMP, dan SMA.

Kemudian, Megawati meneruskan pendidikan di Universitas Padjajaran Bandung.

Namun karier bangku perkuliahannya berakhir selama 2 tahun kemudian alias tak sampai mendapat gelar sarjana.

Setelah dari Bandung, Megawati kembali menempuh pendidikan kuliah di Universitas Indonesia, tepatnya di Fakultas Psikologi Depok pada 1970-1972.

Sama seperti sebelumnya, pendidikan tinggi Megawati tidak tamat hingga untuk kedua kalinya juga tak mendapat gelar sarjana.

Megawati dan Dunia Politik

Nama Megawati tidak lepas dari kiprahnya di dunia politik, mengutip Kompas.com, masuknya Megawati ke dalam partai politik bermula dari pertemuannya dengan Sabam Sirait.

Sebelum bergabung ke partai, Megawati beserta suaminya Taufik Kiemas adalah pengelola SPBU di Jakarta.

Sabam-lah yang kemudian mengajak Mega terjun ke dunia politik. Hal tersebut terjadi sekitar 1980-an, saat tak satu pun keluarga Soekarno tampil di dunia politik.

Awalnya Mega menolak, namun Sabam kemudian membujuk Megawati melalui suaminya.

Hingga kemudian pada 1987, Megawati dan adiknya Guruh Soekarnoputra masuk dalam daftar calon anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Setelah masuknya Megawati ke PDI, popularitasnya semakin meningkat. Inilah yang kemudian dikhawatirkan sejumlah orang di PDI. Rekayasa dan konflik internal pun kemudan tak bisa dihindarkan.

Pada 1993, Megawati terpilih sebagai Ketua Umum PDI di Surabaya. Namun, Ketua Umum PDI sebelumnya, yaitu Soerjadi tidak mau kalah.

Soeradji dan kelompoknya kemudian membuat kongres PDI di Medan dan Soerjadi disepakati terpilih jadi Ketua Umum pada 22 Juni 1996.

Akibatnya terjadi dualisme kepemimpinan yang berujung bentrok pada masing-masing pendukung di Kantor DPP PDI pada 27 Juli 1966 yang disebut peristiwa Kudatuli.

Megawati Presiden Wanita Pertama

Kemudian MPR dalam sidang istimewa Oktober 1999 sepakat mendudukkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang saat itu memimpin Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai Presiden, dan Mega menjadi Wakil Presiden (Wapres).

Pada 2001, manuver politik menyebabkan Gus Dur kemudian dijatuhkan dari kursi presiden dan Megawati kemudian ditunjuk sebagai presiden untuk menggantikan Gus Dur.

Saat menjadi presiden, Megawati berpasangan dengan Hamzah Haz. Masa itulah kemudian, Megawati mencetak sejarah dengan menjadi presiden wanita pertama di Indonesia.

Baca Juga: Megawati Sebut Ada Benalu Menginduk Inangnya, Sekjen PDIP: Itu Autokritik

Penulis : Nurul Fitriana Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV/Kompas.com


TERBARU