> >

Cerita di Balik Pilihan Nama Ibu Kota Baru: Dari "Nusantara Jaya" sampai "Sambalterongpedas"

Peristiwa | 18 Januari 2022, 10:25 WIB
Menteri PPN/Kepala Bappenas bersama Pansus RUU IKN mengunjungi Kota Mandiri BSD (16/1/2022) untuk mempelajari konsep pengembangan kawasan tersebut, guna diterapkan pada Ibu Kota Negara (IKN). (Sumber: Antara )

JAKARTA, KOMPAS.TV- Pemerintah melalui Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengungkapkan, nama Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur sudah ditetapkan yaitu Nusantara.


Namun, sebelumnya, pemerintah menerima usulan sekitar 80."Ada sekitar 80-an lebih, tetapi kemudian akhirnya dipilih kata 'Nusantara' tanpa kata jaya," kata Suharso dalam rapat antara Panitia Khusus RUU Ibu Kota Negara dan pemerintah, Senin (17/1/2022). 

Suharso menyebutkan, beberapa nama yang diusulkan pemerintah antara lain Negara Jaya, Nusantara Jaya, Nusa Karya, Nusa Jaya, Pertiwipura, Cakrawalapura, dan Kertanegara. Pemerintah, kata Suharso, telah memanggil cukup banyak ahli sejarah dan ahli bahasa untuk menentukan nama ibu kota yang baru. 

Baca Juga: Hari Ini, Paripurna DPR akan Putuskan RUU IKN Menjadi Undang-undang

Alasan pemerintah pilih Nusantara Jadi nama Ibu Kota Baru karena dinilai sudah dikenal sejak lama dan ikonik di dunia internasional. "Alasannya adalah Nusantara sudah dikenal sejak dulu, dan ikonik di internasional, mudah dan menggambarkan kenusantaraan kita semua Republik Indonesia," kata Suharso. 

Namun naman Nusantara sebenarnya jadi persoalan tersendiri. Bahkan, Panitia Khusus (Pansus) RUU IKN  sampai meminta penjelasan detil. 

"Kalau soal istilah, pasti pemerintah sudah merenunglah, kontemplasi, mencari kata yang terbaik kiri kanan. Tinggal kita minta penjelasan saja pemerintah kenapa dinamai Nusantara," kata Wakil Ketua Pansus RUU IKN Saan Mustopa.

Menurut Sejarawan JJ Rizal, nama Nusantara untuk ibu kota baru bertolak belakang dengan semangat untuk menghilangkan dikotomi antara Jawa dan Luar Jawa. Sebab, nama Nusantara adalah produk raja-raja Jawa dalam memandang negara di luar Majapahit (Jawa Tengah dan Jawa Timur).

"Sebab istilah Nusantara  mencerminkan bias Jawa yang dominan. Nusantara adalah produk cara pandang Jawa masa Majapahit yang mendikotomi antara negara gung (kota Majapahit) dengan manca negara (luar kota Majapahit)," katanya kepada KOMPAS TV, Senin (17/1/2022).

Baca Juga: Nusantara bakal Jadi Nama IKN Baru, Fraksi PKS dan DPD Tak Setuju

Namun yang tak kalah menarik adalah tawaran dari Peneliti Senior, Pusat Riset Politik dari  Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Syafuan Rozi, menyebutkan bahwa pemindahan ibu kota baru harus mendengarkan suara-suara dari masyarakat lokal, seperti warga asli dan pendatang.

Menurutnya, keterhubungan antar daerah di ibu kota baru juga perlu dipikirkan. Nah, di wilayah ibu kota baru akan ada wilayah baru gabungan beberapa wilayah di sekitar ibu kota baru, yaitu  Samaranda-Balikpapan-Tenggarong- Penajampaser Utara dan sekitarnya, yang jika disingkat menjadi  "Sambalterongpedas".

"Ini menarik jadi nama kuliner dari berbagai daerah. Kalau di Jakarta ada Jabodetabek," kata Syafuan dalam webinar  Ibu Kota Negara (IKN) Baru: “Menimbang Aspirasi Pusat dan Daerah", Kamis 28 Oktober 2021 lalu.

Penulis : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV


TERBARU