> >

Kabar Terbaru Investigasi Kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182, KNKT Telah Unduh Rekaman Suara di Kokpit

Update | 17 Januari 2022, 19:18 WIB
Ilustrasi. Dalam proses investigasi kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182, KNKT telah berhasil menerjemahkan data cockpit voice recorder (CVR). (Sumber: Tribunnews.com)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Investigasi atas kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari 2021 lalu, sudah berhasil menerjemahkan data cockpit voice recorder (CVR).

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebutkan, ada empat channel terpisah dalam CVR itu, yang merupakan bagian terpenting dari kotak hitam atau black box pesawat.

"Data CVR berhasil diunduh oleh para investigator KNKT dan memuat empat channel terpisah. Dengan data suara terekam di setiap channel selama dua jam," bunyi Pernyataan Sementara Perdana KNKT, Kamis (13/1/2022).

"CVR merekam suara sejak persiapan terbang hingga akhir penerbangan ketika kecelakaan terjadi," sambungnya.

Baca Juga: Hari Ini Setahun Lalu, Sriwijaya Air SJ 182 Jatuh di Kepulauan Seribu

Rekaman suara di setiap channel CVR Sriwijaya Air SJ 182

Hasil rekaman suara di channel 1 CVR Sriwijaya Air SJ 182 menunjukkan sistem pengumuman penumpang dalam pesawat tersebut.

Sedangkan channel 2 merekam suara kopilot atau second in command (SIC) selama penerbangan, termasuk komunikasinya dengan menara Air Traffic Control (ATC) dan pesawat yang lain.

Jadi, data hasil unduhan dari kedua channel CVR itu dapat dikategorikan sama.

Sementara itu, channel 3 yang semestinya merekam suara pilot atau pilot in command (PIC) sejak awal, justru hanya memuat data komunikasinya dengan ground engineer sebelum lepas landas.

"Selama penerbangan, suara PIC tidak terekam. Suara PIC (justru) terdengar pada channel 2, melalui mikrofon headset SIC, ketika suara PIC cukup keras," jelas KNKT.

Baca Juga: Misteri Jatuhnya Sriwijaya Air SJ-182 | Podcast Aiman Wijaksono #7

Kemudian, data rekaman suara yang tak wajar juga ditemukan oleh tim investigator KNKT di channel 4 CVR Sriwijaya Air SJ 182.

Channel 4 yang fungsi utamanya untuk merekam suara di area kokpit, malah menangkap 'nada yang menonjol' dengan frekuensi tinggi sekitar 400 Hertz.

Alhasil, nada tersebut menjadi pengganggu bagi semua sinyal audio lainnya dan data yang terekam pun tak dapat dimengerti oleh tim investigator.

Lebih lanjut, KNKT mendapati, nada berfrekuensi 400 Hertz itu mirip dengan hasil pengunduhan oleh Garuda Maintenance Facility pada 2019 silam dan Sriwijaya Air pada 2020.

"(Namun) hasil dari kedua rekaman tersebut (Garuda Maintenance Facility dan Sriwijaya Air) dinyatakan normal."

Baca Juga: Sejarah Buruk Autothrottle Boeing 737 yang Sebabkan Masalah Sebelum Sriwijaya Air SJ 182 Jatuh

Investigasi masih berlanjut

Dengan hasil pemeriksaan CVR Sriwijaya Air SJ 182, KNKT belum bisa memberikan kesimpulan akhir dari investigasi kecelakaan pesawat itu.

Selain CVR, data lainnya yang masih coba dipecahkan oleh KNKT adalah autothrottle computer, autothrottle servo, flight control computer (FCC), dan simulasi kecelakaan yang berkaitan dengan flight data recorder (FDR).

Tak lupa, data uji kecocokan sinyal flight spoiler surface position dan flight spoiler position yang diterima oleh autothrottle computer juga masih dalam proses penyimpulan.

KNKT memastikan, investigasi akan terus berlanjut dengan data dan analisis berdasarkan informasi yang telah dihimpun selama ini.

Untuk sementara, fokus investigasi KNKT tertuju ke sejumlah masalah, baik yang sifatnya teknis ataupun human error.

Seperti masalah tuas dorong, riwayat perawatan sistem autothrottle, kinerja pilot dalam mencegah dan menangani gangguan, kemungkinan masalah operasional akibat kelalaian manusia, hingga masalah organisasi.

Namun, KNKT memastikan, pihaknya tetap membuka peluang memperluas proses investigasi jika ditemukan masalah lain di kemudian hari.

"Rencananya, investigasi ini akan dipublikasikan secara final tidak lewat dari Januari 2023," tulis KNKT.

Adapun dalam melakukan investigasinya, KNKT mendapat bantuan dari sejumlah negara. Mulai dari Amerika Serikat, Singapura, dan Britania Raya.

Penulis : Aryo Sumbogo Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : Kompas.com


TERBARU