> >

Kisah Profesor Zubairi Djoerban Menemukan Pasien AIDS Pertama di Indonesia: Disangkal, Dibakar

Sosok | 1 Desember 2021, 10:49 WIB
Profesor Zubairi Joerban (Sumber:Kompas.Com-)

JAKARTA, KOMPAS.TV- Hari ini, 1 Desember,  merupakan hari AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) se-dunia. Kampanye dan upaya penanganan penyakit kekebalan tubuh ini mulai melemah terkalahkan oleh pandemi yang juga belum reda. 

"Padahal kasusnya masih banyak. Selama pandemi banyak pasien AIDS tidak ke rumah sakit dan tidak minum obat," kata Profesor Zubairi Djoerban, dokter yang pertama kali mendeteksi kasus AIDS di Indonesia pada 1983 silam,  kepada KOMPAS TV, Rabu (1/12/2021). Waktu itu, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini, baru pulang studi dari Perancis.


Prof Beri, sapaanya,  menuturkan,  awalnya dia melaksanakan penelitian terhadap 30 waria di Pasar Rumput, Jakarta. Karena rendahnya tingkat limfosit dan gejala klinis, dua di antaranya kemungkinan AIDS.

Baca Juga: Hari AIDS Sedunia 2021, Ketahui Makna dan Asal Usul Simbol Pita Merah

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 1986,  Prof Beri juga menemukan perempuan berusia 25 tahun yang didiagnosis HIV  di Rumah Sakit Islam Jakarta.  

Tes darahnya memastikan bahwa dia terinfeksi Human T-Cell Lymphomatic/Leukimia Virus  (HTLV-III), dan dengan gejala klinis yang menunjukkan AIDS. Nahas, perempuan ini nyawanya tak tertolong. Sayang, kasus ini tidak dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan (dulu Depkes).

Namun, ketika kasus ini mulai mendapat perhatian dari publik dan media, pemerintah pun masih belum mau mengakuinya. Menteri Kesehatan waktu itu, Dr. Soewandjono Soerjaningrat,  menyatakan pencegahan AIDS terbaik adalah tidak ikut-ikutan jadi homoseks.

Menjawab pertanyaan wartawan, Menkes berkomentar “Kalau kita taqwa pada Tuhan, kita
tidak perlu khawatir terjangkit penyakit AIDS,” katanya kala itu.

Menurut Profesor yang lahir di Kauman Yogyakarta, 11 Februari 1947 ini, pemerintah saat itu terus menyangkal. "Mereka bilang, orang Indonesia mustahil kena AIDS karena kita negara berbudaya dan agamis. Padahal tak ada hubungannya dengan itu. Situasinya mirip kala Covid-19 masuk sini. Mereka juga menyanggah," kata Profesor Beri, yang dia tuangkan dalam kutipan di twitter pribadinya, pada 2020 silam.

Baca Juga: Peringati Hari AIDS Sedunia Anak Muda Gelar Pertunjukan Teater Online

Dampak dari penyangkalan pihak pemerintah, kampanye untuk penyakit ini benar-benar mendapatkan hambatan. Beri pun masih ingat, kala dia mengundang seorang pendakwah agama untuk memberikan pencerahan soal bahaya penyakit ini.

"Saya ingat ada ustaz yang berpandangan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS)  itu harusnya dibakar. Padahal ia kami undang beri tausiah di pengajian ODHA kala itu.Bayangkan deg-degannya. Alhamdulillah beliau jadi paham setelah kami jelaskan." 

Kini, meski telah melewati masa 40 tahun sejak pertama di laporkan di dunia, AIDS belum bisa dikatakan mereda. Stigma dan kasusnya pun belum melandai. 

"Empat puluh tahun sejak kasus AIDS pertama dilaporkan dan kini masih saja mengancam dunia. Sudah saatnya kita mengakhiri stigma, diskriminasi, dan ketidaksetaraan—yang justru menghambat  pencegahan serta pengobatan HIV/AIDS," katanya. 

Penulis : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV


TERBARU