> >

Mungupas Sisi Lain Presiden Soekarno sebagai Kader Muhammadiyah

Sosok | 11 November 2021, 09:48 WIB
Ilustrasi Bung Karno dalam sebuah kunjungan di Jepang. Presiden soekarno juga merupakan kader Muhammadiyah, berikut sisi lain kehidupa pendiri republik ini (Sumber: Istimewa)

Beberapa tahun sebelum pengusiran ke Bengkulu, menurut Prof. Haedar Nashir, Soekarno bahkan sudah jadi kader Muhammadiyah.

“Sejak menimba ilmu dan mengajar di rumah Hos Cokroaminoto, Bung Karno tertarik pada pikiran-pikiran Kyai Dahlan yang menghadirkan kemajuan. Setelah itu, Bung Karno resmi menjadi anggota Muhammadiyah,” tutur ketua PP Muhammadiyah itu di situs resmi Muhammadiyah. 

Ketika di Bengkulu dalam pengasingan tahun 1938, Bung Karno kian getol mempelajari Muhammadiyah dan gerakan islam progresif yang dibawa organisasi Islam yang berdiri sejak tahun 1918 itu.

Baca Juga: Mengenang 12 Pahlawan Nasional dari Muhammadiyah: Mulai dari KH Ahmad Dahlan sampai Fatmawati

Bagi Soekarno waktu itu, Muhammadiyah cocok dengan metode berpikir kritis yang ia anut. Berpijak sosialisme-marhaenisme yang jadi alam pikir Bung Karno, Muhammadiyah secara konsep dianggap mewakili kemajuan yang dicita-citakan sosok dengan nama kecil Koesno tersebut.

“Bung Karno mengatakan kenapa saya masuk menjadi anggota Muhammadiyah karena Muhammadiyah bagi dia sesuai dengan alam pikirannya, yakni menghadirkan Islam yang progresif, dan Kyai Dahlan menghadirkan regeneration dan redifination atau peremajaan dan pemudaan pemikiran Islam dan gerakan Islam,” ujar Haedar.

Itulah sisi lain Soekarno atau Bung Karno sebagai kader Muhammadiyah. Ia tidak hanya dekat secara organisasi, tapi juga lekat dengan pemikiran dan gagasan KH Ahmad Dahlan tentang kemajuan Islam dan realitas masyarakat yang ada di Indonesia.

Penulis : Dedik Priyanto Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas TV


TERBARU