> >

Muhammadiyah Tak Paham Maksud Menag Sebut Kemenag Hadiah Negara untuk NU

Berita utama | 25 Oktober 2021, 04:40 WIB
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti. Mengenai pernyataan Menag Yaqut Cholil Qoumas, yang menyebut Kemenag sebagai hadiah dari negara untuk Nahdlatul Ulama (NU), Abdul tak paham dengan maksudnya tetapi enggan terlalu memikirkannya. (Sumber: Muhammadiyah.or.id)

Baca Juga: Forum Muda Nahdliyin Yogyakarta: Muktamar NU Bukan Sekadar Pilih Ketua, Tapi Juga Adu Gagasan

Sebelumnya, Menag Yaqut diketahui menyampaikan pertnyataan tersebut kala memberikan sambutan dalam webinar bertajuk Santri Membangun Negeri dalam Sudut Pandang Politik, Ekonomi, Budaya, dan Revolusi Teknologi yang ditayangkan di kanal YouTube TVNU, Rabu (20/10/2021).

Pernyataan tersebut bermula ketika Yaqut bercerita soal tagline Kemenag, yakni 'Ikhlas Beramal', yang dirasa kurang pas oleh sejumlah stafnya hingga berujung pada pembahasan mengenai sejarah lembaga pemerintah itu.

Yaqut memgungkapkan, ada salah satu stafnya yang berpendapat bahwa Kemenag merupakan hadiah dari negara untuk umat Islam di Indonesia.

"Karena waktu itu kan perdebatannya bergeser ke kementerian ini adalah kementerian semua agama, melindungi semua umat beragama," ujar Yaqut.

"Ada yang tidak setuju, (lalu berpendapat) kementerian ini harus Kementerian Agama Islam, karena Kementerian Agama adalah hadiah negara untuk umat Islam," sambungnya.

Menyanggah pendapat itu, Yaqut justru menuturkan bahwa Kemenag itu merupakan hadiah dari negara untuk NU, bukan untuk umat Islam secara umum.

"Jadi, wajar kalo sekarang NU memanfaatkan banyak peluang di Kemenag untuk NU," ucap Yaqut, menekankan pernyataannya.

Yaqut juga menerangkan, Kemenag muncul setelah KH Wahab Chasbullah, yang menjembatani kelompok Islam dan nasionalis dalam perdebatan tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

Kala itu, tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang diributkan oleh kedua kelompok berbunyi, "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya".

"Kemudian, lahirlah Kementerian Agama karena itu. Wajar sekarang kalau kami sekarang minta Dirjen Pesantren kemudian kita banyak mengafirmasi pesantren dan santri juga," tegas Yaqut.

Penulis : Aryo Sumbogo Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas.com


TERBARU