> >

PDIP Sebut Istilah Banteng-Celeng Hiburan, Pengamat: Itu Teladan Buruk, Trennya dari Pilpres 2014

Politik | 20 Oktober 2021, 23:43 WIB
Kubu pendukung Ganjar Pranowo dan Puan Maharani berkonflik hingga menciptakan istilah banteng dan celeng. Pengamat menilai, fenomena ini buruk untuk demokrasi. (Sumber: Kolase TribunKaltara.com / Kompas.com/Riska Farasonalia)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Politikus PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno menyebut istilah banteng dan celeng terkait deklarasi relawan Ganjar Pranowo sebagai hiburan. Akan tetapi, pengamat politik mengkritik istilah-istilah merendahkan ini.

“Kalau dalam partai kami, istilah banteng dan celeng itu sesuatu yang biasa. Karena banteng menggambarkan semangat yang tinggi, pantang menyerah, progresif-revolusioner,” ujar Hendrawan pada Kompas TV, Rabu (20/10/2021).

Ia mengatakan, masyarakat tidak perlu menanggapi istilah itu dengan serius karena termasuk hiburan politik.

Baca Juga: Survei CPCS: Elektabilitas Ganjar Pranowo Ungguli Prabowo Subianto, Anies Baswedan Peringkat Keempat

“Diksi itu menjadi hiburan di dunia politik. Jangan terlalu diseriusin karena dunia politik butuh hiburan,” kata Hendrawan.

Meski begitu, ia tak menyanggah saat ditanya apakah celeng bermakna tidak disiplin sesuai sikap elit PDIP.

“Kultur PDI Perjuangan yang tegak lurus dan disiplin itu dipahami semua, termasuk oleh yang mendeklarasikan calon-calon sebelum waktunya,” ucap Hendrawan.

Sementara, pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Hurriyah menyampaikan kritiknya terkait istilah banteng dan celeng itu.

“Apa yang ditunjukkan PDIP dengan konflik banteng versus celeng itu memberi teladan buruk sebenarnya karena narasi yang dimunculkan ke publik itu tidak baik,” kata Hurriyah pada Kompas TV.

Menurutnya, para politisi dan partai politik penting mengelola konflik dalam negara demokrasi.

“Konflik di antara elit-elit partai itu biasa, tetapi bagaimana para politisi dan partai politik mengelola dengan baik dan menampilkannya sebagai sesuatu yang lazim, ini menjadi penting,” ujar Hurriyah.

Lebih lanjut, Hurriyah menyoroti tren buruk narasi elit politik saat berkonflik dengan pihak berlawanan.

Baca Juga: Sejumlah Lembaga Survei Nilai Kinerja Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf, Bagaimana Hasilnya?

“Narasi banteng dan celeng seolah-olah menegaskan kembali bahwa politik kita hanya bisa diisi narasi-narasi buruk. Kita lihat dari Pilpres 2014 ke sini trennya selalu seperti ini,” beber Hurriyah.

Narasi buruk semacam banteng dan celeng ini, kata Hurriyah, merupakan istilah merendahkan yang mestinya tak dipakai elite politik.

“Kita sangat sering menggunakan istilah-istilah yang sangat merendahkan, sama seperti ketika kita mengklasifikasikan pendukung Jokowi dan Prabowo dengan istilah cebong, kampret, dan kadrun,” jelasnya.

Dari tren ini, Hurriyah menyimpulkan ada kesenjangan antara keinginan politik elite dan aspirasi masyarakat.

“Konflik Ganjar dan Puan ini sebenarnya merefleksikan betapa partai politik Indonesia selalu ada kesenjangan antara politik elite dan politik massa rakyat,” papar Hurriyah.

Hurriyah pun menilai, fenomena ini terjadi di beberapa partai politik di mana elitnya tidak mendengarkan aspirasi rakyat.

“Sering sekali muncul figur-figur yang populer di mata publik, tetapi dia tidak mendapat dukungan yang cukup dari elite di parpol,” tambahnya.

Baca Juga: Tagar #PercumaLaporPolisi Viral, IPW Sarankan Kapolri Evaluasi Kinerja Reserse

Penulis : Ahmad Zuhad Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas TV


TERBARU