> >

Pemerintah Berburu Molnupiravir yang Dianggap Berpotensi Jadi Obat Covid-19

Update corona | 20 Oktober 2021, 04:40 WIB
Kapsul obat Covid-19 bernama Molnupiravir, yang diujicoba ke 775 pasien terinfeksi Covid-19. (Sumber: France24/Merck)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah terus mengupayakan obat-obatan untuk mengatasi pandemi Covid-19 di Tanah Air.

Salah satu obat Covid-19 yang menjadi target pemerintah Indonesia adalah Molnupiravir.

“Pemerintah saat ini juga terus menjajaki beberapa alternatif obat Covid-19. Saya saat ini bersama dengan Menteri Kesehatan sedang berada di Amerika Serikat untuk melakukan pertemuan dengan Merck mengenai [obat] Molnupiravir,” terang Luhut dikutip dari Sekretariat Kabinet, Selasa (19/10/2021). 

Selain Molnupiravir, kata Luhut, pemerintah juga sedang mempertimbangkan kemungkinan penggunaan dua obat lainnya, yaitu AT-527 dari Roche & Atea Pharmaceuticals serta Proxaludetamide produksi Suzhou Kintor Pharmaceuticals. 

“Ketiga obat tersebut menunjukkan potensi untuk menjadi obat Covid-19. Namun saya dapat sampaikan bahwa kita tidak ingin hanya sekadar menjadi pembeli, kita harapkan menjadi produsen obat tersebut, melakukan kerja sama, dan melakukan investasi dan produksinya di Indonesia,” tandas Luhut.

Baca Juga: 3 Perusahaan Farmasi Indonesia akan Impor Obat Covid Molnupiravir

Diberitakan sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan, 3 perusahaan farmasi di Indonesia bersiap mengimpor obat Covid-19, Molnupiravir. 

Saat ini, produsen obat tersebut sedang menyelesaikan uji klinik fase 3. Molnupiravir adalah obat produksi Merck, perusahaan farmasi asal Amerika Serikat.

Hal itu disampaikan Pokja Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Erlina Burhan, dalam pelatihan awak media terkait obat dan vaksin yang diselenggarakan BPOM secara virtual, Selasa (19/10/2021).

"Ada 3 farmasi Indonesia yang mau impor kalau ada izin BPOM dan izin edar. Setahun kemudian pun tidak masalah karena kita sedang butuh sekali," kata Erlina.

Erlina mengatakan, Merck juga tengah mengurus izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) dari Food and Drug Administration atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat.

"Kalau sudah keluar EUA-nya sudah boleh dipakai," ujar Erlina.

Jika nanti masuk ke Indonesia, Erlina ingin PDPI dilibatkan dalam uji klinik Molnupiravir.

"Untuk Indonesia, PDPI ingin lakukan uji klinik, apakah efikasinya bagus untuk masyarakat Indonesia atau tidak. Kalau bisa, kita lakukan (uji klinik) maka kita masukkan ke dalam pedoman yang dibuat," jelasnya.

Selain Molnupiravir, obat antivirus lainnya adalah Proxalutamide. Saat ini tiga rumah sakit di Indonesia sedang meneliti obat buatan Suzhou Kintor Pharmaceuticals dari China itu. Salah satunya adalah RS Persahabatan.

Baca Juga: Korea Selatan Pastikan Pembelian 20 Ribu Butir Obat Antibodi Covid-19 Molnupiravir

Penulis : Hedi Basri Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas TV


TERBARU