> >

Kamu Masih Muda Tapi Pelupa? Ini Penjelasannya

Kesehatan | 26 September 2021, 19:54 WIB
Menurut pakar psikiatri dari Hackensack University Medical Center in New Jersey, Gary Small MD, gangguan memori semacam ini dapat terjadi pada usia berapa pun dan bisa muncul sejak usia 20-an, seperti dilansir Antara, Minggu, (26/09/2021). (Sumber: Antara)

Pertama, rajin berolahraga.

"Sepertiga dari otak Anda terdiri dari pembuluh darah, jadi tidak mengherankan jika ada hubungan antara kebugaran fisik dan volume otak," kata Dr. Fotuhi.

Penelitian pada Februari 2011 lalu di PNAS menemukan, orang dewasa yang melakukan jalan cepat selama 40 menit tiga kali seminggu selama setahun, hippocampus-nya tumbuh sekitar 2 persen. Hipocampus biasanya menyusut sekitar 0,5 persen per tahun.

Menurut Dr. Fotuhi, orang-orang dalam studi itu pada dasarnya tak mengalami penuaan otak selama empat tahun.

Sebuah studi pada Juni 2017 dalam The Journals of Gerontology: Series A menemukan hubungan antara aktivitas fisik yang rendah dan risiko demensia.

Para peneliti melakukan pemindaian MRI pada sekitar 2.000 orang yang berusia lebih dari 60 tahun. Mereka menemukan, semakin aktif seseorang, maka semakin besar hippocampus-nya.

"Tidak ada kata terlambat untuk mulai (berolahraga)," kata Dr. Fotuhi.

Kedua, batasi duduk terutama di siang hari saat Anda harusnya cenderung aktif secara fisik.

Sebuah studi April 2018 yang diterbitkan oleh Dr. Small di PLOS One mengamati orang dewasa berusia antara 45 dan 75 tahun. Hasilnya, mereka yang duduk selama tiga hingga tujuh jam setiap hari mengalami penipisan substansial pada lobus temporal medial yakni otak yang membentuk memori baru. Ini biasanya mendahului demensia.

Cara berikutnya, batasi stres karena hal ini racun bagi sel-sel otak. Ikhlas sajalah dan nikmati apa yang ada.

Dr. Fotuhi menuturkan, stress bisa menyusutkan korteks prefrontal dan hippocampus atau kedua area otak yang bertanggung jawab untuk memori.

Sebuah tinjauan studi dalam BMJ Open pada April 2018 dengan hampir 30.000 orang partisipan selama setidaknya 10 tahun menemukan, orang yang melaporkan kecemasan signifikan secara klinis lebih mungkin mengalami demensia di kemudian hari.

Baca Juga: Simak, Gejala Berpikir Lemot Bisa Terjadi Pasca Sembuh dari Covid-19

Kondisi kesehatan lain yang mempengaruhi memori atau ingatan salah satunya adalah tekanan darah tinggi. Masalah ini terutama di usia paruh baya dikaitkan dengan risiko demensia yang lebih tinggi di kemudian hari, menurut American Heart Association. (Sumber: Pixabay)

Sebenarnya, meditasi atau yoga dapat membantu.

Satu studi UCLA pada Mei 2016 dalam Journal of Alzheimer's Disease menunjukkan, satu jam yoga meditatif seminggu sekali serta 20 menit meditasi di rumah bisa meningkatkan memori verbal (diukur dengan kemampuan mengingat daftar kata) dan memori visual-spasial (diukur dengan kemampuan menemukan dan mengingat lokasi). Penelitian ini melibatkan orang-orang berusia di atas 55 tahun.

Di sisi lain, cobalah mendapatkan waktu tidur berkualitas yang cukup.

Saat kamu tertidur lelap, otak sibuk memperkuat koneksi antara sel-selnya, mentransfer info dari hippocampus ke neokorteks.

"Proses ini pada dasarnya menggeser ingatan dan keterampilan ke wilayah otak yang lebih efisien sehingga menjadi lebih stabil dan kamu dapat dengan mudah mengingatnya,” kata Dr. Small.

Tidur juga memungkinkan otak kamu membersihkan limbah yang meningkatkan risiko Alzheimer.

Jika kamu sulit tidur, cobalah hindari minum obat tidur, karena bisa berisiko 50 persen mengalami Alzheimer, menurut tinjauan Januari 2019 di Journal of Clinical Neurology.

Studi dalam Journal of American Geriatrics Society pada November 2017 menemukan hubungan antara penggunaan jangka panjang pil tidur zolpidem dan Alzheimer.

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : Kompas TV/Antara


TERBARU