> >

Alga Coklat Berpotensi Jadi Antivirus, Ini Hasil Penelitiannya

Kesehatan | 22 September 2021, 15:05 WIB
Sekelompok mahasiswa UGM meneliti potensi alga coklat yang diketahui memiliki senyawa aktif penghambat replikasi virus. (Sumber: istimewa)

YOGYAKARTA, KOMPAS.TV - Alga coklat (Ecklonia cava) berpotensi sebagai antiviral atau antivirus. Sekelompok mahasiswa UGM meneliti potensi alga coklat yang diketahui memiliki senyawa aktif penghambat replikasi virus.

Alga coklat yang keberadaannya cukup melimpah di Indonesia ini telah diidentifikasi sebagai sumber senyawa bioaktif yang beragam dan memiliki potensi yang baik dalam bidang farmasi serta biomedis. Alga jenis ini banyak diteliti karena efek medisinal dari komponen aktifnya yang meliputi carotenoid, fucoidan, dan phlorotannin. 

Mumu Mujtahid Fatwa bersama dengan rekan satu fakultas di Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UGM, Lusiana Dwi Setiya Rini, Anadea Salsabilla Rahma, serta Kintan di bawah bimbingan Mokhammad Fajar Pradipta meneliti simulasi interaksi senyawa aktif alga coklat dengan metode molecular docking.

Baca Juga: Stok Obat Antivirus di Bantul Hanya Cukup sampai Pertengahan Agustus 2021, Ini Solusi Pemkab

Menurut Mumu, penelitian ini bermula dari keprihatinan terhadap pandemi Covid-19 yang tidak kunjung mereda, bahkan terus bermutasi dan memunculkan varian baru. Dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan Park dan rekannya pada 2013, bahan alam alga atau ganggang coklat memiliki senyawa aktif yang bisa menghambat proses replikasi karena ada interaksi enzim 3CL(Pro) dari virus SARS-CoV.

“Kami ingin melihat persamaan susunan enzim dari SARS-CoV dengan SARS-CoV-2 dengan protein target SARS-CoV-2,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (22/9/2021).

Ia mengungkapkan alasan pemilihan metode molecular docking karena dapat melakukan prediksi efektivitas interaksi molekul secara komputasi.Keunggulannya, mengurangi risiko kegagalan dan biaya yang diperlukan lebih sedikit.

Setelah melakukan pengelompokan beberapa senyawa aktif dari bahan tersebut sesuai dengan potensi inhibisi, diperoleh tiga kandidat yaitu eckol, 2-phloroeckol, dan dieckol yang digunakan dalam proses interaksi dengan protein target menggunakan metode molecular docking.

Hasilnya, interaksi molecular docking molekul berhasil dilakukan dalam menghambat protein target 3CLPro SARS-CoV-2 dengan ligan kandidat yang meliputi eckol, 2-phloroeckol, dan dieckol menunjukkan afinitas tinggi terhadap binding pocket 3CLprotease SARS-CoV-2. Free binding energy minimum yang diperoleh dari hasil redocking meliputi, -3,15 kkal/mol; -4,80; dan -6,94 kkal/mol. 

Baca Juga: Menko PMK Ingin Obat Antivirus Tersedia di Tingkat Puskesmas

“Dieckol memiliki free binding energy minimum, yaitu -6,94 kkal/mol, sehingga dapat dijadikan sebagai obat yang memiliki kesesuaian dengan obat antiviral dan antimalaria yang ada,” ucapnya.

Sekelompok mahasiswa UGM ini melakukan analisis dengan melakukan penyesuaian ikatan yang terlibat dengan obat antiviral dan anti malaria yang ada. Hasilnya, ada kemiripan yang merepresentasikan bahwa senyawa aktif tersebut dapat diteliti lebih lanjut dengan melakukan uji pra klinis dalam memantau aktivitas inhibisi.

Penulis : Switzy Sabandar Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas TV


TERBARU