> >

Kasus Covid-19 di Jakarta, Jateng, dan Jatim Menurun, Luhut: Tetap Harus Batasi Mobilitas

Update corona | 24 Juli 2021, 10:04 WIB
Tangkapan layar Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan saat memberikan keterangan kepada wartawan dalam konferensi pers secara virtual yang dipantau dari Jakarta, Senin (5/7/2021). (Sumber: Kompas TV/Ant)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menkomarves) Luhut Binsar Pandjaitan menyebut bahwa ada tren penurunan kasus Covid-19 di DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Secara signifikan, tren penurunan kasus di wilayah-wilayah tersebut telah terjadi sejak minggu pertama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

"Saya minta pada teman-teman sekalian, meskipun ada penurunan (kasus) dibandingkan dengan minggu pertama penerapan PPKM (Darurat), pembatasan mobilitas dan aktivitas tetap harus dipertahankan," ucap Luhut dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/7/2021).

Selaku Koordinator PPKM Darurat Jawa dan Bali, Luhut juga mengatakan bahwa pengurangan mobilitas dan aktivitas memegang peran penting dalam menurunkan kasus Covid-19.

Baca Juga: PPKM Darurat Diperpanjang, Jokowi Diminta Pimpin Langsung Pelaksanaannya, Jangan Diserahkan ke Luhut

Hal tersebut dapat dilihat pada variabel laju transmisi kasus, respons kesehatan, dan kondisi sosiologis masyarakat.

Sebab itu, Luhut meminta semua kepala daerah di wilayah Jawa dan Bali untuk terus memperketat dan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang protokol kesehatan.

Dalam klaim Luhut, disebutkan pula bahwa sebagian besar wilayah telah melewati puncak kasus dan mulai mengarah ke penurunan, meski tingginya angka kematian yang masih perlu diwaspadai.

"Terkait Daerah Istimewa Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, saya minta buatkan laporan khusus penyebab tingginya angka kematian, berikan juga usulan upaya untuk menurunkannya," ujar Luhut.

Baca Juga: Ini yang Dilakukan Luhut di 5 Hari Perpanjangan PPKM Darurat

Di samping itu, Luhut juga menaruh perhatian pada penanganan pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri.

"Saya kira penanganan pasien yang isolasi mandiri itu perlu diperhatikan, karena pada umumnya yang dibawa ke rumah sakit itu sudah pada level yang parah," tuturnya.

Pernyataan itu pun diamini oleh Menteri Kesehatan (Meneks) Budi Gunadi Sadikin setelah menerima laporan dari beberapa dokter yang merawat pasien Covid-19.

"Pasien yang tidak tertolong itu umumnya masuk rumah sakit sudah terlambat, saturasi oksigennya hanya 70 atau 80," ungkap Budi.

Padahal, penderita Covid-19 varian Delta yang kini mulai menyebar memiliki masa inkubasi dan sakit yang relatif cepat.

Sebagai langkah antisipasinya, Budi pun akan menjalin koordinasi dengan pihak puskesmas guna melengkapi fasilitas oximeter.

Baca Juga: Luhut Ungkap Alasan PPKM Darurat Diperpanjang Hingga 25 Juli 2021

"Jadi kalau saturasinya masih di atas 94 itu masih aman untuk melakukan isoman di rumah dengan catatan tidak bergejala," jelas Budi.

"Tetapi kalau bergejala dan saturasinya di bawah 94 harus segera dirawat di lokasi isoter (isolasi terpadu) atau rumah sakit yang memiliki fasilitas dan tenaga kesehatan," sambungnya.

Luhut pun kembali merespons hal tersebut dengan memerintahkan Panglima TNI untuk memulai koordinasi kegiatan pengetesan dan penelusuran kasus di tujuh wilayah aglomerasi se-Jawa dan Bali, Senin (26/7/2021) depan.

Targetnya, minimal pengetesan dan pelacakan dilakukan kepada delapan kontak erat per pasien yang dicapai dalam dua minggu ke depan.

"Kalau bisa, TNI segerakan proses testing (pengetesan), agar kita bisa membawa penderita ketika saturasi masih di atas 80 sehingga mereka masih bisa tertolong," tandasnya.

Penulis : Aryo Sumbogo Editor : Fadhilah

Sumber : Antara


TERBARU