> >

Termasuk Penerima 17% Dosis Vaksin untuk 47% Populasi Dunia, Jokowi: Kesenjangan Itu Sangat Nyata

Sosial | 21 Mei 2021, 23:44 WIB
Presiden Jokowi memberikan pernyataannya untuk Global Health Summit, Jumat (21/5/2021). (Sumber: Tangkapan Layar Youtube Setpres)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden Joko Widodo mengatakan, kesenjangan mendapatkan vaksin Covid-19 sangat nyata. Lantaran negara kaya memperoleh 83 persen dosis vaksin Covid-19 sedangkan negara berkembang hanya terima 17 persen untuk 47 persen populasi dunia.

“Di saat beberapa negara telah mulai vaksinasi kelompok berisiko rendah, yaitu anak-anak dan usia belia hanya 0,3% suplai vaksin untuk negara berpenghasilan rendah,” kata Presiden Jokowi dalam pernyataannya untuk Global Health Summit, Jumat (21/5/2021).

“Kesenjangan itu sangat nyata, ketika 83% dosis vaksin global sudah diterima negara kaya. Sementara negara berkembang hanya terima 17% untuk 47% populasi dunia,” tambahnya.

Padahal, kata Presiden Jokowi, hingga saat ini belum ada tanda-tanda pandemi akan segera berakhir. Ditambah lagi, dengan adanya perkembangan varian-varian baru virus covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi dunia.

“Saya harus kembali mengingatkan kita semua bahwa kita hanya akan betul-betul pulih dan aman dari covid 19 jika semua negara juga pulih. No one is safe until everyone is,” ujar Presiden Jokowi.

Merespons kesenjangan memperoleh vaksin, Presiden Jokowi menginginkan ada langkah-langkah nyata. Sebab menurutnya, tantangan mendapatkan vaksin yang adil dan merata bagi semua masih sangat besar.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Literasi Digital adalah Kerja Besar, Pemerintah Tidak Bisa Sendirian

“Dalam jangka pendek kita harus mendorong lebih kuat lagi dosis sharing melalui skema covax facility,” katanya.

“Ini merupakan bentuk solidaritas yang harus didorong dan dilipatgandakan khususnya dalam mengatasi masalah rintangan suplai,” tambahnya.

Kemudian, sambung Presiden Jokowi, dalam jangka menengah dan panjang harus melipatgandakan produksi vaksin untuk memenuhi kebutuhan global dan membangun ketahanan kesehatan.

Penulis : Ninuk Cucu Suwanti Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU