> >

Musik Bagi Sabrang Noe Letto; Tidak Memiliki Makna Tapi Memberikan Rasa

Wawancara | 23 April 2021, 13:38 WIB
Letto (Sumber: Letto Official Website - lettolink.com)

JAKARTA, KOMPAS.TV - 17 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2004, empat  orang kawan karib SMA yang bertemu kembali seusai menuntaskan pendidikan sarjana memutuskan untuk membentuk sebuah kelompok musik.

Grup musik yang mulanya digagas oleh Noe, Ary, Patub, dan Dedy ini kelak dikenal dengan nama Letto.

Letto dengan cepat memperoleh popularitasnya di kancah musik Indonesia. Salah satunya melalui lagu Ruang Rindu yang dirilis pada tahun 2005.

Lagu ini dijadikan soundtrack sinetron Intan dan dirilis sebagai novel dengan judul yang sama oleh Gagas Media di tahun 2007.

Popularitas Letto terus menanjak dengan dirilisnya berbagai lagu hits lainnya mulai dari Sebelum Cahaya (2007), Permintaan Hati (2008), dan Lubang di Hati (2009). Desember 2020 lalu, Letto yang kini beranggotakan 6 orang dengan masuknya Cornel dan Widi, kembali merilis single terbaru mereka berjudul “Fatwa Hati”.

Baca Juga: Lirik Lagu dan Kunci Gitar | Ruang Rindu - LETTO

Terkait musik, KOMPAS TV  berkesempatan berbincang dengan Sabrang Mowo Damar Panuluh atau dikenal juga sebagai Noe, vokalis dari Letto.

Lulusan University of Alberta, Kanada, ini mengatakan bahwa musik sebenarnya tidak memiliki makna, baginya, musik adalah noise atau suara atau kebisingan yang teroganisir.

“Frekuensinya terorganisir, waktunya terorganisir, sehingga seolah-olah menjadi simfoni yang bercerita tentang sesuatu,” kata Noe  Jumat (16/4/2021) lalu.

Bagi Noe, makna dapat ditemukan dalam kata-kata. Sebaliknya, apa yang membuat musik menarik adalah bagaimana musik bisa memimbulkan banyak rasa melalui suara yang terorganisir tadi.

“Semua transmisi dari sesuatu ada jembatan dan mediumnya, makna itu gagasan mediumnya pakai bahasa, diksi atau pemilihan kata dapat menambah nuansa dari makna,” kata Noe.

Penulis : Hasya Nindita Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV


TERBARU