> >

Hari Air Sedunia 22 Maret, Ancaman Krisis Air Makin Nyata

Peristiwa | 22 Maret 2021, 05:00 WIB
kendaraan mobile water treatment ini dioperasikan setiap hari, dalam satu menit kendaraan ini menghasilkan 30 liter air bersih jika bahan dasarnya air tawar (Sumber: Humas polda sulsel)

JAKARTA, KOMPAS.TV- Hari Air Sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 Maret, ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 29 tahun silam saat Sidang Umum PBB ke-47 di Rio De Janeiro, Brazil.

Organisasi persatuan bangsa seluruh dunia itu, mengajak semua orang menggurangi penggunaan air, terutama penggunaan keran yang berlebihan. Kala itu, PBB bersama seluruh anggotanya  gencar mensosialisasikan tentang hari air sedunia melalui kegiatan nyata. 


Sebab, dengan air bersih manusia bisa hidup sehat. Air adalah sumber kehidupan, apalagi  80 persen tubuh manusia merupakan air. 

Namun sayang, krisis air seperti disampaikan para ahli, nyaris tidak bisa dielakkan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut, dalam waktu 10 tahun mendatang, beberapa pulau di Indonesia akan menderita krisis air  parah. 

Baca Juga: Krisis Air Sepanjang Tahun, Warga Pegunungan Dibantu Embung

Dalam Rancangan Teknokratik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 yang dikeluarkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, kelangkaan air di Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara diperkirakan meningkat hingga 2030. Proporsi luas wilayah krisis air meningkat dari 6,0% di tahun  2000 menjadi 9,6% di tahun 2045. Kualitas air diperkirakan juga menurun signifikan.
 
“Jawa diprediksi  akan mengalami peningkatan defisit air sampai tahun 2070,” kata Heru Santoso dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dilihat dari laman lipi.go.id, Minggu (21/3/2021).  

Pada tahun 2005, Heru melakukan penelitian Dampak Perubahan Iklim terhadap Neraca Air Pulau Jawa. Dengan perangkat lunak MAGICC/SCENGEN, dia menyusun skenario potensi air di Jawa sampai tahun 2070.

“Rentang waktu ini untuk memperlihatkan perbedaan yang signifikan karena jika jarak waktunya terlalu pendek tidak terlalu kelihatan dampaknya,” katanya. 

Baca Juga: Puluhan Petugas Medis Terjebak Banjir Lahar Hujan Diselamatkan dengan Alat Berat


Heru menyebutkan, faktor terbesar penyebab krisis air di Jawa adalah perubahan iklim. “Ada perubahan siklus air yang membuat lebih banyak air yang menguap ke udara karena peningkatan temperatur akibat perubahan iklim,” jelas Heru. Kondisi inilah yang mempengaruhi keseimbangan neraca air. Kini saatnya bijak dalam mempergunakan air bersih.


 

Penulis : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV


TERBARU