> >

BPS: Soal Kesehatan, Warga Tidak "Sedia Payung Sebelum Hujan"

Peristiwa | 25 Januari 2021, 06:34 WIB
Walikota Madiun, Maidi saat meninjau kondisi kereta medis darurat milik PT INKA yang akan dijadikan sebagai tempat perawatan pasien covid-19. (Sumber: Dok Kominfo Kota Madiun/Kompas.com)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan publikasi tahunan yang diberi judul "Profil Kesehatan Ibu dan Anak 2020", yang dikeluarkan pada 31 Desember 2020 lalu.

Publikasi yang berisi hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret tahun 2018-2020 itu memotret kondisi kesehatan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
 
"Publikasi tahunan itu ditujukan  untuk memenuhi kebutuhan data dan informasi seputar bidang kesehatan, terutama kesehatan ibu dan anak," demikian Kepala BPS Suharyanto dalam pengantar publikasi ini.

Salah satu yang dipaparkan adalah pengeluaran kesehatan masyarakat Indonesia selama tahun 2020 atau saat pandemi Covid-19 berlangsung.

Dalam publikasi disebutkan, pengeluaran kesehatan  disusun oleh tiga komponen, yaitu pertama biaya pelayanan pengobatan/kuratif (termasuk biaya melahirkan dan biaya obat yang tidak dapat dirinci), kedua biaya obat (hanya obat yang dibeli di apotek, toko obat, dan lain-lain), dan ketiga biaya pelayanan pencegahan/preventif. 

Baca Juga: 3 Dokter Terpapar Covid-19, Layanan Kesehatan Terganggu

Hasilnya, pada tahun 2020, kontribusi pengeluaran per kapita penduduk untuk kesehatan terhadap rata-rata total pengeluaran per kapita sebulan tergolong kecil, yaitu di bawah angka tiga persen, sedangkan kontribusinya terhadap rata-rata total pengeluaran bukan makanan per kapita sebulan hanya sekitar 5,07 persen 

Sementara pengeluaran per kapita sebulan untuk kesehatan penduduk yang tinggal di perkotaan hampir dua kali lipat penduduk yang tinggal di perdesaan.

Apabila dikaitkan dengan perbandingan antara persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan, persentase penduduk yang berobat jalan, dan persentase penduduk yang rawat inap antara penduduk di perdesaan dan perkotaan yang tidak jauh berbeda, hal ini kemungkinan disebabkan biaya kesehatan di perkotaan yang lebih tinggi daripada di perdesaan.

Baca Juga: Layanan Kesehatan Aman Untuk Warga Berobat Umum

Namun, distribusi pengeluaran per kapita penduduk sebulan untuk kesehatan menurut komponen penyusun memperlihatkan bahwa biaya pelayanan pengobatan/kuratif memiliki kontribusi terbesar dibandingkan kedua komponen lainnya.  

Nominal pengeluaran per kapita sebulan untuk pelayanan pengobatan/kuratif yang dikeluarkan penduduk hampir lima kali lipat nominal yang dikeluarkan untuk memperoleh pelayanan pencegahan/preventif. 

"Hal ini secara tidak langsung menggambarkan perilaku masyarakat Indonesia yang lebih suka melakukan upaya kesehatan setelah terpapar penyakit dibandingkan melakukan upaya pencegahan," papar publikasi tersebut.

Hal itu diperkuat dengan survei bahwa biaya pelayanan pencegahan/preventif memiliki kontribusi yang relatif kecil yaitu hanya sebesar 15,70 persen terhadap pengeluaran per kapita penduduk sebulan untuk kesehatan. 

"Hal ini mengindikasikan penduduk Indonesia yang tidak sedia payung sebelum hujan, dalam arti lebih rela mengeluarkan uang untuk mengobati dibandingkan untuk melakukan berbagai upaya pencegahan penyakit,"demikian paparan hasil survei tersebut.

Penulis : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV


TERBARU