> >

Tanda-Tanda Zaman

Sosial | 3 Agustus 2021, 08:32 WIB
Ilustrasi kondisi cuaca mendung disertai petir. (Sumber: Istimewa via Triaskun.id)

Oleh Trias Kuncahyono

I

“Halo sobat BMKG, berikut disampaikan tayangan update prakiraan cuaca esok hari….” Sapaan seperti itu setiap pagi saya terima lewat WA, yang dikirim oleh  Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia (BMKG), Dwikorita Karnawati.

Prakiraan (perkiraan) cuaca, dalam bahasa sehari-hari disebut ramalan cuaca. Para ahli mengatakan, cuaca adalah satu faktor alam yang tidak dapat dikontrol oleh manusia. Dengan ilmu dan teknologi, manusia berusaha memperkirakan keadaan cuaca; dengan ilmu dan teknologi memperkiraan keadaan atmosfer Bumi pada masa datang untuk suatu tempat tertentu.

Maka prakiraan dilakukan berdasarkan hasil perhitungan rasional—bukan hitungan ngawur-ngawuran—tetapi perhitungan berdasarkan data yang tersedia kemudian dianalisis. Misalnya,  prakiraan cuaca. Kondisi cuaca harian dipengaruhi oleh kondisi iklim regional maupun iklim global.

Kondisi cuaca sangat mempengaruhi berbagai sektor kehidupan manusia. Salah satu sektor yang sangat bergantung pada kondisi cuaca adalah sektor transportasi. Cuaca buruk sangat mengganggu keamanan transportasi. Banyak kecelakaan kapal laut terjadi akibat ombak besar akibat hujan dan badai.

Ada yang pernah melakukan penelitian bahwa sekitar 12 persen dari kecelakaan pesawat disebabkan oleh kondisi cuaca. Maka itu, kerap kali pesawat batal terbang karena kondisi cuaca tidak mendukung atau berbahaya.

II

Ilustrasi kalender (Sumber: Istimewa via Triaskun.id)

Para petani dan juga nelayan pun sebelum adanya teknologi canggih untuk membaca keadaan cuaca, memiliki kearifan lokal, untuk membaca cuaca. Misalnya, dengan membaca bintang. Nenek-moyang kita pun, dahulu pandai membaca “tanda-tanda alam”. Mereka memiliki “Ilmu Titen.” Ilmu ini berupa kepekaan terhadap tanda-tanda atau ciri-ciri alam.

Kata titen (bahasa Jawa, titi) berarti tanda. Tetapi, ada pula yang mengartikan sebagai “ngati-ati” atau berhati-hati. Dalam pandangan masyarakat Jawa, sikap kehati-hatian ini memiliki arti peringatan sekaligus nasihat untuk lebih peka terhadap apapun.

Dengan “Ilmu Titen” mereka mengamati, menganalisa, dan menyimpulkan suatu kejadian berdasarkan tanda-tanda tertentu yang menyertai. Sehingga manusia akan “niteni” atau menandainya sebagai satu kejadian yang akan terjadi.

Masyarakat zaman dulu mengamati setiap tanda-tanda kejadian alam yang berlangsung untuk menentukan mangsa, musim. Maka kemudian disusun Pranata Mangsa, Ketentuan Musim. Petani dapat memahami mangsa berdasarkan kejadian atau situasi alam yang dialami, yang terkait dengan usaha taninya.

Para petani dan juga nelayan sebelum adanya teknologi canggih untuk membaca keadaan cuaca, memiliki kearifan lokal, membaca cuaca. Misalnya, dengan membaca bintang.

Penulis : Tito-Dirhantoro

Sumber : Triaskun.id


TERBARU