> >

Konsentrasi Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tertinggi, Picu Lebih Banyak Cuaca Ekstrem

Sinau | 26 Oktober 2021, 17:06 WIB
Ilustrasi emisi karbon dioksida. Pemerintah mulai tahun depan akan menarik pajak karbon dengan sasaran pertama adalah PLTU Batubara. (Sumber: SHUTTERSTOCK/aapsky)

JAKARTA, KOMPAS.TV – Konsentrasi gas rumah kaca kembali mencapai rekor tertinggi pada 2020 dan terus berlanjut di tahun 2021 ini, meski mobilitas penduduk global turun akibat pandemi Covid-19.

Laporan ini muncul bersamaan dengan peringatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang dunia yang tetap berada di luar target untuk memenuhi tujuannya mengurangi emisi dan mengekang pemanasan global.

Adapun temuan tersebut disampaikan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dalam laporan ”Buletin Gas Rumah Kaca” yang diterbitkan pada Senin (25/10/2021). Buletin Gas Rumah Kaca memuat pesan ilmiah yang gamblang untuk negosiator perubahan iklim di COP 26.

Dalam laporannya, konsentrasi rata-rata global karbon dioksida (CO2), gas rumah kaca utama, mencapai 413,2 bagian per juta pada 2020. Peningkatan tahun tersebut lebih tinggi daripada rata-rata tahunan selama dekade terakhir meski ada penurunan 5,6 persen dalam emisi karbon dioksida dari bahan bakar fosil karena pembatasan Covid-19.

“Konsentrasi CO2 saat ini telah lebih tinggi 149 persen dibandingkan dengan tingkat pra-industri,” sebut Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia Petteri Taalas saat meluncurkan laporan tahunan lembaganya tentang gas rumah kaca, dilansir dari Kompas.id.

Perlambatan ekonomi akibat Covid-19 tidak berdampak nyata pada tingkat atmosfer gas rumah kaca dan tingkat pertumbuhannya meski ada penurunan sementara dalam emisi baru. Selama emisi berlanjut, suhu global akan terus meningkat.

Mengingat umur CO2 yang panjang, tingkat suhu yang telah diamati akan bertahan selama beberapa dekade, bahkan jika emisi dikurangi dengan cepat sampai nol.

Baca Juga: Produsen Minyak Terbesar Dunia Menyatakan Siap Bebas Emisi Karbon Pada 2050

Penyebab dan dampaknya

Bersamaan dengan meningkatnya suhu, ini berarti lebih banyak cuaca ekstrem, termasuk panas dan curah hujan yang tinggi, pencairan es, kenaikan permukaan laut, dan pengasaman laut, disertai dengan dampak sosial ekonomi yang luas.

Emisi karbon dioksida yang ditimbulkan manusia, sebagian besar dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, seperti minyak dan gas atau dari produksi semen, berjumlah sekitar dua pertiga dari efek pemanasan pada iklim.

Dengan tren saat ini, menurut Taalas, kita akan melihat peningkatan suhu global pada akhir abad ini jauh melebihi target kesepakatan Paris 1,5 hingga 2 derajat celsius di atas tingkat pra-industri.

Dalam laporannya, WMO juga menunjukkan tanda-tanda perkembangan baru yang mengkhawatirkan seperti, wilayah hutan yang dulu menjadi penyerap karbon, sekarang menjadi sumber emisi.

”Salah satu pesan mencolok dari laporan kami adalah bahwa wilayah Amazon, yang dulunya merupakan penyerap karbon, telah menjadi sumber karbon dioksida,” kata Taalas.

Dan itu, menurutnya, karena penggundulan hutan. Terutama karena perubahan iklim lokal global.

Kepala Divisi Penelitian Atmosfer dan Lingkungan WMO Oksana Tarasova menambakan, hasil yang menunjukkan Amazon telah menjadi sumber emisi bukan terjadi di seluruh wilayah ini. Namun, hal ini terutama terjadi di bagian tenggara Amazon yang sudah mengalami deforestasi.

Baca Juga: Bagi Petani Melarat Afghanistan, Dampak Perubahan Iklim Lebih Mengerikan daripada Perang

 

Penulis : Fransisca Natalia Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : Kompas TV/Kompas.id


TERBARU