> >

Israel Klaim Berhasil Bunuh Pemimpin Palestina di Tepi Barat dalam Serangan Udara

Kompas dunia | 17 Januari 2024, 20:00 WIB
Anak kecil korban pengeboman Israel menjelang pemakamannya di Rafah, Gaza selatan, Rabu, 17 Januari 2024. Pasukan Israel mengklaim telah membunuh seorang militan Palestina senior dalam serangan udara di Tepi Barat. (Sumber: AP Photo)

YERUSALEM, KOMPAS.TV - Pasukan Israel mengklaim telah membunuh seorang militan Palestina senior dalam serangan udara di Tepi Barat.

Ahmed Abdullah Abu Shalal, yang menurut militer Israel bertanggung jawab atas infrastruktur dan merencanakan beberapa serangan terhadap warga Israel di Yerusalem, tewas bersama empat orang lain hari Rabu pagi, (17/1/2024) di kamp pengungsi Balata yang padat di kota Nablus.

Seperti laporan Associated Press hari Rabu, (17/1/2024), Palang Merah Palestina menyatakan pasukan Israel menghalangi tim medis untuk mencapai lokasi serangan, dengan mengatakan dalam unggahan media sosial bahwa "tembakan ditembakkan ke arah tim kami."

Militer Israel menyatakan Abu Shalal dan kelompoknya merencanakan serangan dan telah menerima pendanaan serta bimbingan dari "sumber-sumber Iran." Namun, Israel tidak memberikan bukti untuk tuduhan tersebut.

Kekerasan melonjak di Tepi Barat yang diduduki Israel sejak dimulainya perang di Gaza. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, lebih dari 350 warga Palestina tewas dalam tiga bulan terakhir di Tepi Barat, terutama selama razia penangkapan Israel dan protes kekerasan.

Israel semakin sering menggunakan serangan udara di Tepi Barat seiring meningkatnya intensitas pertempuran, tetapi pembunuhan masih relatif jarang terjadi di wilayah tersebut.

Baca Juga: Israel dan AS Terkaget-kaget sekaligus Terkesan oleh Kualitas dan Kerumitan Terowongan Hamas di Gaza

Lokasi penyerbuan militer Israel di kamp pengungsi Nur Shams, Tulkarem, Tepi Barat, Rabu (3/1/2024). Pasukan Israel mengklaim telah membunuh seorang militan Palestina senior dalam serangan udara di Tepi Barat, Rabu, (17/1/2024). (Sumber: Majdi Mohammed/Associated Press)

Obat-obatan bagi warga Israel yang disandera Hamas sedang dalam perjalanan ke Gaza hari Rabu setelah Qatar dan Prancis memediasi kesepakatan antara Israel dan Hamas, kesepakatan pertama antara keduanya sejak gencatan senjata seminggu yang terjadi pada November.

Kesepakatan ini tercapai setelah lebih dari 100 hari konflik yang tidak menunjukkan tanda-tanda berakhir dan telah memicu ketegangan di seluruh Timur Tengah, dengan serangkaian serangan dan balasan yang membingungkan dalam beberapa hari terakhir, mulai dari utara Irak hingga Laut Merah dan dari selatan Lebanon hingga Pakistan.

 

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Associated Press


TERBARU