> >

Sejarah Konflik Israel-Palestina: Intifada Kedua, Perang Saudara dan Perang Gaza yang On Off (III)

Kompas dunia | 12 Oktober 2023, 10:05 WIB
Dalam file foto 21 Februari 2020 ini, kelompok militan Palestina, Hamas, mengibarkan bendera nasional mereka selama protes di Kota Gaza. (Sumber: AP Photo/Adel Hana, File)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Setelah Intifada Pertama Palestina yang memicu kelahiran Hamas, konflik antara Palestina dan Israel rupanya masih terus berlanjut. 

Selain berkonflik dengan Israel, perpecahan antara faksi dalam negeri Palestina -- Fatah dan Hamas -- pula terjadi. Israel juga memberlakukan blokade, disusul peperangan di Jalur Gaza yang terus terjadi hingga kini dalam skala berbeda-beda.

Berikut lanjutan rangkuman sejarah konflik perlawanan rakyat Palestina demi merebut kembali tanah mereka dari pendudukan Israel.

Intifada Kedua

Melansir Al Jazeera, Intifada Kedua Palestina dimulai pada tanggal 28 September 2000, ketika pemimpin oposisi Israel, Likud, Ariel Sharon melakukan kunjungan provokatif ke Kompleks Masjid Al Aqsa dengan ribuan pasukan keamanan yang dikerahkan di dalam dan sekitar Kota Tua Yerusalem.

Baca Juga: Update Gaza Hari Ini: Kementerian Kesehatan Palestina Sebut 1.055 Warga Tewas, 5.184 Orang Terluka

Bentrokan pun kemudian pecah selama dua hari antara pengunjuk rasa Palestina dan pasukan Israel hingga menewaskan lima warga Palestina dan melukai 200 orang.

Insiden ini lantas memicu pemberontakan bersenjata yang meluas. Selama Intifada Kedua, Israel menyebabkan kerusakan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap perekonomian dan infrastruktur Palestina.

Israel menduduki kembali wilayah yang diperintah oleh Otoritas Palestina dan memulai pembangunan tembok pemisah yang seiring dengan maraknya pembangunan permukiman.

Tak hanya itu, Israel juga menghancurkan sumber mata pencaharian dan komunitas warga Palestina.

Permukiman Yahudi, yang dipandang ilegal menurut hukum internasional, banyak bermunculan. Ratusan ribu pemukim Yahudi pindah ke koloni yang dibangun di atas tanah Palestina yang dicuri. 

Ruang bagi penduduk Palestina pun semakin menyusut karena jalan dan infrastruktur hanya diperuntukkan bagi warga Yahudi sang pemukim ilegal di Tepi Barat. Diskriminasi ini mengingatkan pada apartheid, politik diskriminasi warna kulit di Afrika Selatan yang menempatkan keturunan orang Eropa (kulit putih) lebih superior ketimbang penduduk kulit berwarna.

Ketika Perjanjian Oslo diteken, lebih dari 110.000 pemukim Yahudi tinggal di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. 

Namun saat ini, jumlahnya telah mencapai lebih dari 700.000 orang yang tinggal di lebih dari 100.000 hektare tanah yang diambil alih dari Palestina.

Baca Juga: Soal Konflik Israel-Palestina yang Kian Memanas, PP Muhammadiyah Nyatakan Sikap Berikut Ini

Perpecahan Palestina dan Blokade Gaza

Pada tahun 2004, pemimpin PLO Yasser Arafat meninggal. Setahun kemudian, Intifada Kedua berakhir dan permukiman Israel di Jalur Gaza dibongkar.

Penulis : Rizky L Pratama Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas TV/Al Jazeera/Associated Press


TERBARU