> >

Pemerintahan Biden Salahkan Trump atas Kacaunya Penarikan Mundur AS dari Afghanistan

Kompas dunia | 7 April 2023, 05:50 WIB
Jajaran komandan kelompok Taliban beserta pengawal tampak di ruang kerja presiden Afghanistan 15 Agustus 2021. Pemerintahan Presiden Joe Biden hari Kamis (6/4/2023) menyalahkan mantan presiden Donald Trump atas penarikan pasukan AS yang berdarah dan kacau dari Afghanistan tahun 2021, yang menyebabkan beberapa momen paling gelap dalam masa jabatan Biden. (Sumber: AP Photo/Zabi Karimi)

WASHINGTON, KOMPAS.TV - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada Kamis (6/4/2023) kemarin menyalahkan mantan Presiden Donald Trump atas penarikan pasukan AS yang berdarah dan kacau dari Afghanistan tahun 2021. 

Hal ini pun yang menyebabkan beberapa momen paling gelap dalam masa jabatan Biden.

Seperti dilaporkan Associated Press, Jumat (7/4), Gedung Putih secara publik merilis ringkasan 12 halaman dari hasil “hotwash” kebijakan AS mengenai akhir perang terpanjang di negara itu, menyalahkan pemerintah Trump dan menegaskan bahwa pilihan Biden sangat terbatas akibat keputusan Trump.

Namun, Biden mengakui evakuasi warga AS dan sekutu dari Afghanistan seharusnya dimulai lebih awal, tetapi menyalahkan penundaan itu pada pemerintah dan militer Afghanistan serta penilaian militer dan intelijen AS.

Dokumen singkat ini disusun oleh Dewan Keamanan Nasional, bukan entitas independen, dengan masukan dari Biden sendiri.

Pemerintah AS mengatakan tinjauan rinci yang dilakukan oleh Departemen Luar Negeri dan Pentagon, yang dikirim secara pribadi ke Kongres pada Kamis, sangat rahasia dan tidak akan dirilis secara publik.

"Keputusan Presiden Biden dalam mengeksekusi penarikan mundur dari Afghanistan sangat terbatas oleh kondisi yang dibuat oleh pendahulunya," demikian ringkasan Gedung Putih yang mencatat bahwa ketika Biden menjabat, Taliban berada dalam posisi militer terkuat sejak 2001, mengendalikan atau memperebutkan hampir setengah negara.

Laporan tersebut mencatat penilaian intelijen yang terlalu optimistis tentang kemauan tentara Afghanistan untuk berperang, dan mengatakan bahwa Biden mengikuti rekomendasi komandan militer tentang penarikan pasukan AS.

Baca Juga: Laporan PBB: Taliban di Afghanistan Saat Ini Pening Kepala, Hadapi ISIS dan Kelompok Mantan Tentara

Antrian pengungsi naik pesawat Amerika Serikat pada Agustus 2021. Pemerintahan Presiden Joe Biden hari Kamis (6/4/2023) menyalahkan mantan presiden Donald Trump atas penarikan pasukan AS yang berdarah dan kacau dari Afghanistan tahun 2021, yang menyebabkan beberapa momen paling gelap dalam masa jabatan Biden. (Sumber: Master Sgt. Donald R. Allen/U.S. Air Force via AP)

"Jelas kami tidak melakukan dengan benar," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional, John Kirby, pada Kamis, tetapi menghindari pertanyaan apakah Biden menyesal atas keputusan dan tindakan yang diambil sebelum penarikan.

Kirby mengatakan bahwa tujuan laporan itu bukan akuntabilitas, melainkan memahami apa yang sudah terjadi untuk memberi masukan bagi keputusan di masa depan.

Gedung Putih menyatakan kesalahan di Afghanistan memengaruhi penanganannya atas Ukraina, di mana pemerintahan Biden telah diakui karena mendukung pertahanan Kiev terhadap serangan Rusia. Gedung Putih mengatakan mereka mensimulasikan skenario terburuk sebelum serangan pada Februari 2022 dan merilis informasi intelijen tentang niat Moskow beberapa bulan sebelumnya.

“Kami sekarang memprioritaskan evakuasi lebih awal ketika menghadapi situasi keamanan yang memburuk,” kata Gedung Putih.

Dalam upaya yang tampaknya untuk membela pengambilan keputusan keamanan nasionalnya, pemerintahan Biden juga mencatat bahwa mereka merilis peringatan pra-perang walau banyak “ketidaksetujuan yang kuat dari pejabat senior dalam pemerintah Ukraina.”

Republikan di Kongres secara tajam mengkritik penarikan pasukan Afghanistan, fokus pada kematian 13 tentara AS dalam serangan bom bunuh diri di bandara Kabul, yang juga menewaskan lebih dari 100 warga Afghanistan.

Baca Juga: Biden Siap Tanggung Jawab soal Keputusan Penarikan Pasukan AS dari Afghanistan

Bandara Kabul makin kusut, ribuan warga Afghanistan merangsek ke Bandara untuk mendapat pesawat manapun agar bisa keluar dari Afghanistan, menyusul penguasaan Taliban atas ibukota dan seluruh negeri. (Sumber: Wakil Kohsar/AFP via Radio France International)

Mantan Sersan Marinir Tyler Vargas-Andrews, yang terluka parah dalam ledakan itu, mengatakan dalam dengar pendapat kongres bulan lalu bahwa penarikan tersebut adalah sebuah bencana dan ada akuntabilitas yang kurang namun tak dapat dijelaskan.

Laporan pemerintahan Biden tampaknya memindahkan semua kesalahan pada serangan bom bunuh diri pada 26 Agustus 2021 di Bandara Internasional Hamid Karzai, mengatakan militer AS lah yang membuat keputusan kunci.

“Untuk mengelola potensi ancaman serangan teroris, Presiden secara berulang kali menanyakan apakah militer membutuhkan dukungan tambahan untuk melaksanakan misi mereka di HKIA,” kata laporan tersebut.

“Pejabat militer senior memastikan mereka punya sumber daya dan wewenang yang cukup untuk membatasi ancaman.”

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV/Associated Press


TERBARU