> >

Setelah 13 Tahun, Guinea Akhirnya Adili Bekas Junta Tersangka Pembantaian yang Tewaskan 157 Orang

Kompas dunia | 18 September 2022, 02:05 WIB
Ilustrasi. Bekas junta militer Moussa Dadis Camara beruluk hormat di tengah upacara hari kemerdekaan Guinea di Conakry, 2 Oktober 2009. Camara merupakan salah satu tersangka pembantaian di Stadion Conakry pada 2009 silam yang kasusnya akan diperkarakan pada akhir bulan ini. (Sumber: Schalk van Zuydam/Associated Press)

CONAKRY, KOMPAS.TV - Kementerian Kehakiman Guinea pada Jumat (16/9/2022) mengumumkan akan mengadili para tersangka pembantaian di sebuah stadion di Conakry pada 2009 silam. Keputusan ini disambut baik keluarga korban yang telah menunggu selama hampir 13 tahun.

Menteri Kehakiman Guinea Charles Alphonse Wright mengaku berharap bahwa pengadilan ini akan “meninjau kembali sejarah kita, masa lalu kita, bahwa kita semua bangkit dari pengadilan ini dengan sebuah visi baru untuk Guinea kita.”

Pengadilan ini rencananya akan dimulai pada 28 September mendatang, tepat pada hari peringatan pembantaian di Stadion Conakry tersebut.

Pembantaian di Stadion Conakry pada 2009 silam menewaskan 157 orang. Selain itu, puluhan perempuan diperkosa tentara.

Salah satu tersangka pembantaian ini adalah bekas junta militer Moussa “Dadis” Camara.

Baca Juga: Ada Dugaan Pelanggaran HAM, AS Depak Ethiopia, Mali, dan Guinea dari Program Perdagangan Bebas Bea

Ketika itu, massa menggelar demonstrasi di sebuah stadion untuk memprotes rencana Camara maju dalam pemilihan presiden. Demonstran ditembaki aparat keamanan.

Camara sendiri melarikan diri usai mengalami percobaan pembunuhan beberapa bulan usai pembantaian. Pria yang berkuasa lewat kudeta militer pada 2008 silam itu baru kembali ke Guinea pada 2021 lalu.

Sekembalinya ke Guinea, Camara berkata ke pendukungnya bahwa ia percaya sistem keadilan di negara itu dan “siap menyampaikan bagian kebenaran dari saya.”

Selama bertahun-tahun, pemerintah Guinea sendiri berupaya mencegah kembalinya Camara karena dikhawatirkan akan memicu instabilitas politik. Namun, pemerintah kemudian digulingkan militer pada 2021 lalu yang sepakat Camara kembali.

Saat kejadian, pemerintahan Camara mengeklaim elemen-elemen militer “yang tak terkontrol” menjadi pelaku pembunuhan dan pemerkosaan.

Akan tetapi, menurut laporan Human Rights Watch, para pembantu Camara ada di dalam stadion dan tidak berusaha menghentikan pembunuhan massal tersebut.

Investigasi Human Rigths Watch menyimpulkan bahwa pasukan penjaga presiden berbaret merah Camara mengepung stadion dan memblokade pintu keluar saat pembantaian. Pasukan itu kemudian masuk ke stadion lalu mulai menembak.

Puluhan perempuan juga dilaporkan diculik dari stadion dan klinik-klinik tempat mereka dirawat usai kerusuhan oleh tentara. Para perempuan itu dibawa ke vila-vila lalu diperkosa selama berhari-hari oleh tentara.

Bissiri Diallo, seorang ibu yang kehilangan anaknya dalam pembantaian tersebut, berharap pengadilan ini akan menyingkap kebenaran atas tragedi itu.

“Hari yang kami nantikan sejak lama telah tiba. Ini waktunya bagi pengadilan ini untuk diadakan,” kata Diallo kepada Associated Press.

“Kematian anak saya di stadion pada 28 September 2009 telah memadamkan seberkas cahaya di jiwa saya untuk selamanya. Saya tidak merasakan kegembiraan atau hasrat hidup apa pun sejak hari itu. Saya harap pengadilan ini akan menghidupkan kembali cahaya ini dalam jiwa saya,” lanjutnya.

Baca Juga: Pasukan Baret Hijau AS Ternyata sedang di Guinea saat Pasukan Elit Negara Itu Gulingkan Presidennya

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Associated Press


TERBARU