> >

Mengejutkan, Tentara Rusia Ungkap Apa yang Terjadi di Ukraina: Tak Ada Keadilan di Perang Ini

Krisis rusia ukraina | 18 Agustus 2022, 12:59 WIB
Tentara Rusia, Pavel Filatyev secara mengejutkan mengungkapkan apa yang terjadi di Ukraina dan mengutuk keras penyerangan ke Ukraina. (Sumber: The Guardian)

MOSKOW, KOMPAS.TV - Seorang tentara Rusia secara mengejutkan mengungkapkan apa yang terjadi di Ukraina dan mengutuk serangan Rusia ke negara tersebut.

Pavel Filatyev menjadi tentara Rusia pertama yang mendokumentasikan perang di Ukraina secara mendetail.

Ia mengungkapkan hari demi hari apa yang unit paratrooper yang dikirim ke Ukraina dari Krimea di media sosial.

Filatyev mengungkapkan bahwa tak ada keadilan dalam perang di Rusia saat berbicara dengan jurnalis di Moskow.

Baca Juga: Putin Disebut Ganti Komandan Militer Rusia saat Invasi Ukraina, Pemimpin Armada Laut Hitam Berubah

“Saya tak melihat adanya kebenaran di sana. Saya tak takut bertempur di medan perang. Tetapi saya perlu melihat adanya keadilan, untuk mengerti yang saya lakukan benar,” ujarnya dikutip dari The Guardian, Rabu (17/8/2022).

“Dan saya percaya bahwa ini semua gagal bukan hanya karena pemerintah telah mencuri segalanya, tetapi karena kami, orang Rusia tak merasa apa yang kami lakukan benar,” kata Filatyev.

 

Bersama unitnya, Filatyev ikut masuk ke Kherson, kota kunci pertama yang diduduki Rusia saat menyerang Ukraina.

Ia kemudian mengikuti pertempuran, dan baku tembak artileri selama lebih dari sebulan di dekat Mykolaiv.

Filatyev kemudian dievakuasi ketika ia mengalami cedera di pertempuran.

Ia kemudian mengalami sejumlah infeksi mata, yang nyaris membuatnya buta.

“Kami ketika itu tengah berlindung di bawah tembakan artilei di Mykolaiv,” tuturnya.

Baca Juga: Dituduh Maling Komputer hingga Makanan, 8 Serdadu Rusia Dibidik Dinas Intelijen Ukraina

“Pada titik itu saya pikir yang kami lakukan omong kosong, untuk apa kami melakukan perang ini? Saya pun berpikir, ‘Tuhan, jika saya selamat, saya akan melakukan segalanya untuk menghentikan ini’,” ucapnya.

Ia pun menghabiskan 45 hari menulis memoarnya dari konflik, memecahkan sebuah sumpah untuk diam di mana bahkan kata perang telah dibuang di depan umum.

“Saya tidak bisa tinggal diam lebih lama lagi, meski saya tahu mungkin tidak akan mengubah apa pun, dan mungkin saya telah bertindak bodoh untuk membuat diri saya dalam begitu banyak masalah,” ujarnya.

Filatyev mengatakan jari-jarinya gemetar karena stres saat ia menyalakan rokok.

Filatyev yang bertugas di Resimen Pengawal Serangan Udara ke-56 yang berbasis di Krimea, mengungkapkan bagaimana ia kelelahan dan unitnya yang tak lengkap menyerbu ke daratan Ukraina.

“Saya memerlukan waktu berpekan-pekan untuk mengerti bahwa tak ada perang di wilayah Rusia, dan bahwa kita hanya menyerang Ukraina,” tuturnya.

Baca Juga: Wow, China dan Rusia Bergabung untuk Latihan Militer, Upaya Hadapi AS dan Sekutunya?

Pengungkapkan ini jelas membuat Filatyev terancam, karena Rusia telah melakukan pelarangan terkait pemberitaan di Ukraina yang menyudutkan pemerintah.

Ia pun diminta untuk meninggalkan Rusia, namun Filatyev merasa berat untuk melakukannya.

“Mengapa saya harus meninggalkan negara saya hanya karena mengatakan yang sebenarnya tentang apa yang telah diubah orang-orang itu kepada tentara kita,” ujarnya.

“Saya diliputi emosi bahwa saya harus meninggalkan negara sendiri,” ujarnya.

Penulis : Haryo Jati Editor : Desy-Afrianti

Sumber : The Guardian


TERBARU