> >

Asia Rentan Alami Bencana Alam, ASEAN dan China Perkuat Kerja Sama Tanggap Darurat Bencana

Kompas dunia | 14 Agustus 2022, 02:05 WIB
ASEAN dan China memperkuat kerja sama tanggap darurat bencana dengan menggelar simposium yang menghadirkan para pakar dari berbagai negara. (Sumber: Antara)

BEIJING, KOMPAS.TV - ASEAN dan China memperkuat kerja sama tanggap darurat bencana dengan menggelar simposium yang menghadirkan para pakar dari berbagai negara, termasuk Indonesia, seperti laporan Antara, Sabtu (13/8/2022).

Simposium bertemakan "Bersama untuk Ketahanan Masyarakat" di Beijing pada Jumat (12/8/2022) yang digelar oleh ASEAN-China Center (ACC) itu dihadiri duta besar dan diplomat negara anggota ASEAN di Beijing, pejabat pemerintahan China, pakar, dan awak media.

"Saya yakin melalui simposium ini, kami bisa mengumpulkan banyak gagasan dan saran untuk mendukung peningkatan kerja sama pencegahan dan mitigasi bencana di ASEAN dan China," kata Sekretaris Jenderal ACC Chen Dehai.

Ia menganggap Asia merupakan kawasan yang paling rentan mengalami bencana alam.

China mendukung implementasi Kesepakatan ASEAN untuk Program Kerja Penanganan dan Tanggap Darurat Bencana 2021-2025.

China juga telah mendukung Komite ASEAN untuk Penanganan Bencana dan Pusat Koordinasi ASEAN untuk Bantuan Kemanusiaan.

Baca Juga: Selat Taiwan dan Laut China Selatan Memanas, Angkatan Udara China dan Thailand Gelar Latihan Bersama

China dan Thailand melakukan latihan gabungan bersandikan Falcon Strike 2022 yang digelar di Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Thailand (RTAF) di Udorn Thani, Thailand, selama sepuluh hari mulai Minggu (14/8/2022) (Sumber: Antara)

Sementara dalam Program Lima Tahunan China Periode ke-14 untuk Penanggulangan dan Mitigasi Bencana hingga 2035, pemerintah setempat menetapkan modernisasi sistem pengendalian dan penanggulangan bencana alam agar bisa memberikan manfaat bagi masyarakat di kawasan.

"Jadi, ketika bencana datang, ketangguhan masyarakat dengan cepat mampu memulihkan fungsi sosial, infrastruktur, dan ekonomi," kata Chen.

Oleh sebab itu, menurut dia, penguatan kerja sama dalam memantau risiko bencana, peringatan dini, kesiapsiagaan menghadapi bencana, tanggap darurat, dan pemulihan pascabencana sangat diperlukan.

Dalam simposium tersebut, Tunggul Wicaksono, peneliti dari Pusat Studi ASEAN pada Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menyampaikan presentasi secara daring berjudul "Sekilas tentang Manajemen Risiko Bencana".

Dia memaparkan tentang manajemen penanganan bencana di beberapa negara ASEAN, seperti tsunami di Aceh pada tahun 2004, banjir di Thailand (2011), dan topan Haiyan di Filipina (2013).

Para pembicara sepakat bahwa kerja sama penanganan bencana harus ditingkatkan, mengingat China dan negara-negara ASEAN berada di dalam peta rawan bencana, terutama gempa bumi.

 

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas TV/Antara


TERBARU