> >

Proyek Kilang BBM Kerja Sama Indonesia dan Rusia Senilai Rp240 Triliun Bergerak Maju

Kompas dunia | 2 Juli 2022, 10:39 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin saat bertemu Presiden Joko Widodo. BUMN Pertamina dan BUMN Rosneft Rusia masuk tahap berikut dalam proyek kilang di Jawa Timur yang akan memproduksi 229.000 barel bensin, solar, dan avtur per hari. (Sumber: kremlin.ru)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Indonesia dan Rusia bergerak maju dalam proyek pembangunan kilang BBM raksasa di Jawa Timur, seperti dilaporkan The Straits Times, Sabtu (2/6/2022).

BUMN Pertamina dan BUMN Rosneft Rusia masuk tahap berikutnya untuk melanjutkan proyek pembangunan kilang di Provinsi Jawa Timur yang akan memproduksi bahan bakar dan bahan baku industri petrokimia, kata seorang pejabat senior pemerintah Indonesia kepada The Straits Times, Jumat (1/7/2022). 

Rosneft adalah salah satu raksasa BUMN Rusia.

"Rusia bernegosiasi untuk mendapatkan tax holiday. Proyek ini masih berjalan sesuai rencana," kata pejabat Indonesia yang mengawasi proyek tersebut dan berbicara dengan syarat anonim.

Kedua BUMN tersebut sebelumnya membentuk perusahaan patungan berbasis di Jakarta, PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia, yang akan mengelola New Grass Refinery Root (NGRR) Jawa Timur di Tuban dan memiliki produksi 229.000 barel bensin, solar dan bahan bakar jet per hari.

Tahap perencanaan pra-proyek telah selesai untuk proyek senilai USD16 miliar atau setara Rp240 triliun itu.

Saham kilang minyak dan petrokimia kerja sama Rusia-Indonesia itu 45 persen dimiliki Rosneft dan 55 persen Pertamina.

Baca Juga: Rusia Ambil Alih Penuh Proyek Minyak dan Gas Sakhalin-2, Sebelumnya Sebagian Dimiliki Barat

BUMN Pertamina dan BUMN Rosneft Rusia masuk tahap berikut dalam proyek kilang di Jawa Timur yang akan memproduksi 229.000 barel bensin, solar, dan avtur per hari. (Sumber: Pertamina Rosneft)

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati belum menanggapi permintaan komentar dari The Straits Times.

Jika selesai, proyek ini akan sangat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor yang harganya terus meningkat.

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : Kompas TV/Straits Times


TERBARU