> >

Gawat, Wabah Hidung Mimisan Mematikan Muncul di Irak, Tewaskan 18 Orang

Kompas dunia | 2 Juni 2022, 15:14 WIB
Ilustrasi kutu. Kutu menyebabkan wabah hidung mimisan mematikan di Irak dan telah membunuh 18 orang. (Sumber: PIXABAY/CLAUDIA WOLLESEN Via Kompas.com)

DHI QAR, KOMPAS.TV - Wabah hidung mimisan mematikan telah menyebar di Irak dan dilaporkan telah menewaskan 18 orang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan infeksi tersebut disebarkan oleh kutu dan saat ini penderitanya terus meningkat.

Penyakit ini secara resmi dikenal sebagai demam berdarah Krimea-Kongo.

Penyakit ini menyebabkan pendarahan secara internal dan eksternal, termasuk lewat hidung.

Baca Juga: Kesehatan Jurnalis Australia dalam Tahanan Cina Menurun, Dituduh Bocorkan Rahasia Negara

Dilaporkan 120 orang telah terdeteksi di Irak sejak Januari lalu, dan setidaknya 18 orang dilaporkan telah tewas.

Pejabat WHO menakutkan penyakit ini akan menyebar pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi terpusat di Dhi Qar.

Dikutip dari Metro, virus ini terdapat pada kutu dan dapat menularkan melalui kontak dengan seseorang yang terinfeksi darah hewan, yang biasanya bekerja dengan ternak atau di rumah pemotongan hewan.

Menurut WHO, gejala utama dari penyakit tersebut adalah pendarahan hebat, demam, nyeri tubuh, pusing, sakit leher, sakit kepala dan sakit mata.

Sakit tenggorokan, diare, mual dan muntah juga telah terdeteksi pada pasien yang terinfeksi.

Presiden Irak, Mustafa al-Kadimi, dilaporkan menyiapkan satu miliar dolar AS atau setara Rp14 triliun untuk mengatasi virus itu.

Dana itu akan digunakan untuk menyemprot peternakan dengan pestisida dalam upaya membunuh kutu.

Baca Juga: Penampakan Singa Berponi ala The Beatles di China, Jubir Kebun Binatang: Sebuah Keajaiban Alam

Klinik hewan juga telah dkerahkan dengan pestisida dan warga didesak untuk membeli daging hanya dari pemasok berlisensi.

Perwakilan WHO di Irak, Ahmed Zouiten mengungkapkan peningkatan kasus dapat disebabkan karena kegagalan negara untuk melihat melalui kampanye penyemprotan pestisida pada 2020 dan 2021 karena Covid-19.

“Kami belum mencapai tahap epidemi, tetapi infeksi lebih tinggi dari tahun lalu,” tuturnya.

“Prosedur yang diadopsi oleh otoritas yang berbeda tak sesuai, terutama berkaitan dengan penyembelihan yang tak diatur,” ujarnya.

Penulis : Haryo Jati Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Metro


TERBARU