> >

Sehari Jelang Idulfitri, Sebagian Irak Dihantam Badai Pasir dan Debu Dahsyat

Kompas dunia | 2 Mei 2022, 02:05 WIB
Satu hari menjelang Idul Fitri 1443 Hijriah, Irak hari Minggu, (1/5/2022) sekali lagi disapu badai pasir dan debu yang membuat sebagian langit Irak diselimuti lapisan oranye tebal (Sumber: France24)

BAGHDAD, KOMPAS.TV - Satu hari menjelang Idulfitri 1443 Hijriah, tepatnya pada Minggu (1/5/2022), Irak sekali lagi disapu badai pasir dan debu yang membuat sebagian langit diselimuti lapisan oranye tebal, seperti laporan France24.

Bandara Internasional Baghdad dan Najaf membatalkan penerbangan karena buruknya jarak pandang.

Fenomena tersebut bahkan diperkirakan akan berlanjut hingga Senin (2/5/2022).

"Penerbangan terganggu di Bandara Baghdad dan Najaf karena badai debu," kata juru bicara otoritas penerbangan sipil, Jihad al-Diwan, seperti dikutip France24.

Jarak pandang dilaporkan kurang dari 500 meter dengan penerbangan diperkirakan akan dilanjutkan setelah cuaca membaik.

Irak dihantam serangkaian badai semacam itu sejak awal April, menghentikan penerbangan dan membuat puluhan orang dirawat di rumah sakit karena masalah pernapasan.

Amer al-Jabri dari kantor meteorologi Irak, sebelumnya mengatakan, fenomena cuaca badai debu dan pasir itu diperkirakan akan menjadi semakin umum "karena kekeringan, penggurunan, dan penurunan curah hujan".

Baca Juga: 30 Tewas dan Puluhan Terluka pada Serangan Bom di Pasar Pinggiran Baghdad

Satu hari menjelang Idul Fitri 1443 Hijriah, Irak hari Minggu, (1/5/2022) sekali lagi disapu badai pasir dan debu yang membuat sebagian langit Irak diselimuti lapisan oranye tebal (Sumber: Straits Times)

Irak sangat rentan terhadap perubahan iklim, setelah mengalami rekor curah hujan rendah dan suhu tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Para ahli mengatakan, faktor-faktor ini mengancam untuk membawa bencana sosial dan ekonomi di negara yang dilanda perang itu.

Pada November, Bank Dunia memperingatkan Irak dapat mengalami penurunan sumber daya air sebesar 20 persen pada 2050 karena perubahan iklim.

Pada awal April, pejabat kementerian lingkungan Issa al-Fayad telah memperingatkan Irak dapat menghadapi "272 hari debu" setahun dalam beberapa dekade mendatang, menurut kantor berita negara INA.

Kementerian mengatakan bahwa fenomena cuaca dapat dihadapi dengan "meningkatkan tutupan vegetasi dan menciptakan hutan yang bertindak sebagai penahan angin".

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Fadhilah

Sumber : Kompas TV/France24


TERBARU