> >

Ekonomi Indonesia Diprediksi Melesat Tahun Ini Dipicu Lonjakan Ekspor Mineral Olahan dan Perkebunan

Kompas dunia | 16 Januari 2022, 16:18 WIB
Harga komoditas dunia melonjak, ekonomi Indonesia bersiap untuk mantul dan melesat tinggi tahun 2022. Hal itu dibantu penurunan yang signifikan dalam kasus dan kematian akibat Covid-19 yang mendorong pelonggaran pembatasan sosial, pembukaan kembali perbatasan, dan kegiatan ekonomi, seperti dilansir Straits Times, Minggu (16/1/2022). (Sumber: Straits TImes)

Indonesia meraih sukses luar biasa dalam penanganan pandemi Covid-19 di mana jumlah tersebut turun menjadi 1.700 kasus pada awal Oktober, dan kemudian menjadi 300 pada akhir tahun, tetapi rebound hingga mencapai sekitar 650 pada Jumat (14/1/2022) karena penyebaran varian Omicron.

Tingkat kematian juga turun dari puncak rata-rata tujuh hari pada angka 1.700 setiap hari pada awal Agustus menjadi sekitar 100 pada awal Oktober, dan hanya enam kematian pada Jumat lalu.

Baca Juga: Prediksi Pergerakan Ekonomi Indonesia di Tahun 2022, Apa Saja Faktornya?

Presiden Joko Widodo melepas Ekspor Merdeka Pertanian dari Istana Kepresiden Bogor. Harga komoditas dunia melonjak, ekonomi Indonesia bersiap untuk mantul dan melesat tinggi tahun 2022, dibantu penurunan yang signifikan dalam kasus dan kematian akibat Covid-19 yang mendorong pelonggaran pembatasan sosial, pembukaan kembali perbatasan, dan kegiatan ekonomi, seperti dilansir Straits Times, Minggu (16/1/2022). (Sumber: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Ekonom bank investasi Mandiri Sekuritas, Leo Putera Rinaldy dan Imanuel Reinaldo, dalam catatan 9 Januari kepada investor mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai tingkat pra-pandemi pada 2022. Mereka juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi rebound ke 5,2 persen.

"Motor pertumbuhan akan bergeser dari pertumbuhan yang dipimpin oleh publik (pemerintah) ke pertumbuhan yang dipimpin oleh swasta, dengan konsumsi sebagai salah satu pendorongnya," kata kedua ekonom tersebut.

"Penghasilan menengah ke atas dan penghasil komoditas akan mendominasi kegiatan konsumsi di paruh kedua (Juli hingga Desember), sementara konsumsi oleh kelompok berpenghasilan rendah akan tertinggal karena pemulihan pasar tenaga kerja yang tidak merata."

Pada tahun 2021, harga batu bara melonjak sekitar 110 persen, minyak sawit mentah sebesar 32 persen dan bijih nikel sebesar 25 persen, menurut data yang dikumpulkan oleh Kementerian Keuangan Indonesia.

Luhut mencatat Indonesia mendapat manfaat dan keuntungan berlipat ganda dari kenaikan harga komoditas ini karena Indonesia naik tingkat dalam rantai nilai/value chain sejak secara bertahap mulai melarang ekspor mineral mentah dan mendorong ekspor mineral yang sudah diolah, dalam upaya menambah pendapatan negara.

Baca Juga: Terancam Krisis Listrik, Filipina Desak Indonesia Akhiri Pelarangan Ekspor Batu Bara

Sebuah truk membongkar muat batu bara di Dermaga Batu bara Kertapati milik PT Bukit Asam Tbk di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (4/1/2022). Harga komoditas dunia melonjak, ekonomi Indonesia  bersiap untuk mantul dan melesat tinggi tahun 2022, dibantu penurunan yang signifikan dalam kasus dan kematian akibat Covid-19 yang mendorong pelonggaran pembatasan sosial, pembukaan kembali perbatasan, dan kegiatan ekonomi, seperti dilansir Straits Times, Minggu (16/1/2022). (Sumber: Antara)

Mulai awal 2020, bijih nikel, bahan baku pembuatan besi baja, harus diproses di dalam negeri sebelum dikirim ke luar negeri. Indonesia melarang ekspor mineral lain seperti bauksit, yang digunakan untuk membuat aluminium, pada 2022.

Indonesia memiliki sekitar seperempat cadangan bijih nikel dunia, bahan penting untuk pembuatan baterai kendaraan listrik.

“Kita seharusnya tidak hanya berbicara tentang harga komoditas tetapi juga nilai tambah (yang dihasilkan dari pengolahan komoditas ini),” kata Luhut, yang mendapat pujian karena mengubah kota yang sunyi di Sulawesi Tengah bernama Morowali menjadi kawasan industri nikel terbesar di dunia.

Kawasan industri nikel serupa telah dibangun di Teluk Weda di provinsi Maluku Utara.

"Kami mengharapkan ekspor antara US$35 miliar dan US$40 miliar per tahun hanya dari Morowali dan Teluk Weda pada tahun 2024," kata Luhut.

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : Kompas TV/Straits Times


TERBARU