> >

Pemerintah Ethiopia Tangkap 70 Sopir Penyalur Bantuan Kemanusiaan

Kompas dunia | 10 November 2021, 22:48 WIB
Komunitas Tigray berdemonstrasi di depan Kedutaan Besar AS di Pretoria, Afrika Selatan pada Rabu (10/11/2021). Akibat konflik pemerintah Ethiopia dengan pemberontak, jutaan warga Tigray dilaporkan butuh bantuan kemanusiaan. Namun, akses bantuan terhambat. Sebanyak 70 sopir penyalur bantuan pun justru ditangkap pemerintah Ethiopia pada Rabu (10/11). (Sumber: Alet Pretorius/Associated Press)

ADDIS ABABA, KOMPAS.TV - Pemerintah Ethiopia dilaporkan menangkap dan menahan sekitar 70 sopir truk penyalur bantuan kemanusiaan. Hal tersebut disampaikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (10/11/2021).

Sopir-sopir truk tersebut dikontrak PBB dan organisasi kemanusiaan lain untuk mengirimkan bantuan sejak pekan lalu.

Konflik antara pemerintah dan pemberontak Tigray memanas sejak pekan lalu. Ethiopia pun mengumumkan situasi darurat sehubungan laporan bahwa pasukan Tigray mendekati ibukota Addis Ababa.

PBB mengaku sedang meminta keterangan soal alasan penangkapan para sopir truk tersebut. Para sopir dilaporkan ditangkap sejak 3 November 2021 di kota Semera, jalan masuk menuju wilayah Tigray.

PBB menyebut otoritas Ethiopia selama ini membuat “blokade bantuan kemanusiaan secara de facto” terhadap Tigray.

Menurut pernyataan PBB, para sopir yang ditahan “beretnis beda” dibanding etnis mayoritas Ethiopia.

Baca Juga: Konflik Memanas, 16 Staf PBB dan Keluarga Ditahan Ethiopia

Penangkapan pekerja kemanusiaan bukan kali ini saja terjadi di Ethiopia. Pada Selasa (9/11) lalu, 16 pekerja PBB ditahan di Addis Ababa.

Semua pekerja itu beretnis Tigray. Otoritas Ethiopia menuduh mereka “berpartisipasi dalam teror”, tetapi tidak mendetail sangkaan.

Penangkapan para sopir truk menambah tantangan pemberian bantuan kemanusiaan ke wilayah Tigray. Jutaan orang di Tigray dilaporkan butuh bantuan akibat konflik.

“Diperkirakan 80 persen obat-obatan esensial sudah tidak tersedia di wilayah itu (Tigray),” kata Badan Kemanusiaan PBB (UN OCHA) pada pekan lalu.

Otoritas Ethiopia sendiri dilaporkan khawatir bantuan kemanusiaan akan dialihkan ke pemberontak Tigray. Addis Ababa pun menuduh organisasi kemanusiaan mempersenjatai pemberontak dan melebih-lebihkan kondisi konflik.

Sejak meletus pada November 2020 lalu, konflik antara pemerintah pusat Ethiopia dan pemberontak Tigray telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan lain kehilangan tempat tinggal.

Baca Juga: “Kebrutalan Ekstrem”, Laporan PBB Sorot Berbagai Kejahatan Perang di Ethiopia
 

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Associated Press


TERBARU