> >

Arab Saudi dan Bahrain Usir Dubes Lebanon karena Sebut Perang Yaman adalah Hasil Agresi Saudi

Kompas dunia | 30 Oktober 2021, 12:56 WIB
Menteri Penerangan Lebanon George Kordahi berbicara kepada wartawan setelah rapat kabinet di istana presiden di Baabda, timur Beirut, Lebanon, Senin, 13 September 2021. Arab Saudi dan Bahrain mengusir duta besar Lebanon sebagai tanggapan atas komentar Kordahi yang menggambarkan perang di Yaman sebagai agresi Saudi. (Sumber: AP Photo/Bilal Hussein)

BEIRUT, KOMPAS.TV — Arab Saudi, Jumat (29/10/221), memerintahkan duta besar (dubes) Lebanon untuk kerajaan itu meninggalkan Arab Saudi dalam waktu 48 jam dan menghentikan semua impor dari Lebanon, seperti dilaporkan Associated Press, Sabtu (30/10/2021). Hal tersebut sebagai tanggapan atas komentar seorang menteri Lebanon yang menggambarkan perang di Yaman sebagai “agresi Saudi.”

Beberapa jam kemudian, Kerajaan Bahrain juga memerintahkan dubes Lebanon untuk meninggalkan negara itu dalam waktu dua hari karena alasan yang sama, kata Kementerian Luar Negeri Bahrain.

Perdana menteri dan presiden Lebanon membahas keputusan Arab Saudi tersebut dan meminta Menteri Informasi George Kordahi untuk mengambil "keputusan yang tepat," seruan yang jelas agar ia mengundurkan diri dengan harapan akan meredakan ketegangan.

Media pemerintah Arab Saudi menambahkan dalam laporannya, duta besar Arab Saudi untuk Lebanon juga diminta untuk pulang ke Riyadh.

Laporan itu mengatakan langkah tersebut tidak akan mempengaruhi puluhan ribu warga Lebanon dan keluarga mereka yang tinggal dan bekerja di kerajaan kaya minyak itu.

Keputusan Arab Saudi melarang impor dari Lebanon datang pada saat negara kecil itu sangat membutuhkan mata uang asing untuk melewati krisis ekonomi dan keuangan terburuk dalam sejarah modernnya.

Sejak krisis ekonomi Lebanon dimulai pada akhir 2019, mata uang pound Lebanon kehilangan lebih dari 90 persen nilainya, puluhan ribu orang kehilangan pekerjaan dan sekarang tiga perempat penduduknya hidup dalam kemiskinan.

Baca Juga: PBB Sebut 10.000 Anak-Anak di Yaman Tewas atau Cacat Sejak Perang Saudara Meletus pada 2014

Lebih dari 10.000 anak di Yaman tewas atau terluka dalam kekerasan yang terkait dengan perang bertahun-tahun di negara miskin itu, kata juru bicara UNICEF James Elder, Selasa, (19/10/2021) seperti dilansir Associated Press. (Sumber: AP Photo/Hani Muhammad)

Arab Saudi yang merupakan raksasa ekonomi regional dan salah satu produsen dan eksportir minyak terbesar dunia, beberapa dekade terakhir menjadi pasar utama untuk produk Lebanon.

Langkah pengusiran dubes itu diambil beberapa hari setelah sebuah video beredar di media sosial di mana Kordahi menggambarkan perang di Yaman sebagai agresi oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Dia menambahkan perang di Yaman adalah “tidak masuk akal” dan harus dihentikan karena dia menentang perang antara orang-orang Arab.

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : Kompas TV/Associated Press


TERBARU