> >

PBB Desak Pemimpin Dunia Tingkatkan Upaya Perangi Perubahan Iklim

Kompas dunia | 21 September 2021, 05:44 WIB
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, berbicara kepada wartawan setelah pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson untuk mendiskusikan tentang perubahan iklim di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa, Senin, 20 September 2021, dalam sesi ke-76 Sidang Majelis Umum PBB di New York. (Sumber: AP/John Minchillo)

NEW YORK, KOMPAS.TV – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terus menekan para pemimpin dunia untuk meningkatkan upaya memerangi perubahan iklim.

“Kami membutuhkan tindakan tegas sekarang untuk mencegah bencana iklim, dan untuk itu kami membutuhkan solidaritas,” kata Sekjen PBB Antonio Guterres, dalam konferensi pers setelah sesi Senin (20/9/2021), kepada para pemimpin dunia.

“Ada risiko kegagalan yang tinggi pada negosiasi iklim besar-besaran,” tambahnya. Seperti dikutip dari The Associated Press, dia menyebut dirinya tidak putus asa, tapi dia sangat khawatir.

Baca Juga: Khawatir Terjadi Perang Dingin, Sekjen PBB Peringatkan China dan AS

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, yang menjadi tuan rumah pertemuan iklim tertutup pada hari Jumat, akan membahas masalah itu dalam pidatonya dalam Sidang Majelis Umum PBB hari ini.

Hal ini dikonfirmasi oleh seorang pejabat senior pemerintah AS yang berbicara dengan syarat anonim.

Negosiasi iklim selanjutnya, yang akan diadakan di Skotlandia musim gugur mendatang, dirancang untuk menjadi langkah berikutnya setelah kesepakatan iklim Paris 2015.

"Kita semua setuju bahwa 'sesuatu harus dilakukan'. Namun saya akui, saya semakin frustrasi karena 'sesuatu' yang telah Anda lakukan, tidaklah cukup. Ekonomi terbesar di dunia menyebabkan masalah, sementara yang terkecil menderita konsekuensi terburuk," ujar Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, yang menujukan pernyataan ini kepada para pemimpin dunia.

Johnson mengatakan para pemimpin harus menyingkirkan dunia dari pembangkit listrik tenaga batu bara dan mesin pembakaran internal, serta menghentikan deforestasi.

Sementara negara-negara kaya perlu memenuhi komitmen mereka untuk menghabiskan $100 miliar per tahun untuk membantu negara-negara miskin untuk menghadapi perubahan iklim.

"Negara berkembang menanggung beban bencana perubahan iklim. Kami adalah orang-orang yang menciptakan masalah. Saya memahami perasaan ketidakadilan di negara berkembang dan seruan penuh semangat yang baru saja kita dengar dari Kosta Rika, Maladewa, dan negara-negara lain,” ujar Johnson, Senin (20/9/2021).

Baca Juga: Artis Asia Pertama, BLACKPINK Didapuk jadi Duta SDGs PBB

“Jika semua pembangkit listrik tenaga batu bara yang direncanakan dibangun, target kesepakan iklim Paris akan hangus," tambah Gutteres.

Fokus Sidang Majelis Umum PBB minggu ini akan berfokus pada perubahan iklim dan bencana yang terkait dengan cuaca ekstrem. Saat ini dunia telah mengalami dampak dari perubahan iklim, seperti kebakaran hutan yang menghancurkan di AS bagian barat, banjir mematikan di AS, Cina dan Eropa, dan gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya di berbagai negara.

Penulis : Tussie Ayu Editor : Fadhilah

Sumber : Associated Press


TERBARU