> >

Taliban Nyatakan Perang Sudah Usai, Harapkan Hidup Damai dan Tidak Ingin dalam Isolasi Internasional

Kompas dunia | 16 Agustus 2021, 09:24 WIB
Jajaran komandan kelompok Taliban beserta pengawal tampak di ruang kerja presiden Afghanistan. Kelompok Taliban telah sepenuhnya menguasai Kabul, ibukota Afghanistan, hari Minggu, 15 Agustus 2021. (Sumber: AP Photo/Zabi Karimi)

KABUL, KOMPAS.TV - Taliban menyatakan perang di Afghanistan telah berakhir setelah gerilyawan menguasai istana kepresidenan di Kabul saat pasukan pimpinan AS pergi dan negara-negara Barat bergegas pada Senin 16/08/2021) untuk mengevakuasi diplomat dan warganya.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melarikan diri dari negara itu pada hari Minggu ketika gerilyawan Islam memasuki kota, mengatakan dia ingin menghindari pertumpahan darah sementara ratusan warga Afghanistan putus asa untuk meninggalkan bandara Kabul yang kebanjiran.

Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan pada Senin pagi hampir semua personel kedutaan, termasuk Duta Besar Ross Wilson, sudah berada di bandara dan bendera Amerika telah diturunkan dan dipindahkan dari kompleks kedutaan.

"Hari ini adalah hari besar bagi rakyat Afghanistan dan mujahidin. Mereka telah menyaksikan buah dari upaya dan pengorbanan mereka selama 20 tahun," kata Mohammad Naeem, juru bicara kantor politik Taleban, kepada Al Jazeera TV. "Alhamdulillah perang di negara ini sudah berakhir."

Mr Naeem mengatakan jenis dan bentuk rezim baru di Afghanistan akan segera dibuat jelas, menambahkan Taliban tidak ingin hidup dalam isolasi dan menyerukan hubungan internasional yang damai.

"Kami telah mencapai apa yang kami cari, yaitu kebebasan negara kami dan kemerdekaan rakyat kami," katanya.

"Kami tidak akan mengizinkan siapa pun menggunakan tanah kami untuk menargetkan siapa pun, dan kami tidak ingin menyakiti orang lain."

Baca Juga: Pemerintahan Joe Biden Kaget Afghanistan Jatuh Begitu Cepat ke Tangan Taliban, Akui Ada Miskalkulasi

Presiden Joe Biden berbicara di Treaty Room saat mengumumkan penarikan pulang tentara AS dari Afghanistan, 14 April 2021. (Sumber: AP Photo/Andrew Harnik, Pool, File)

Di Washington, pengkritik keputusan Presiden Amerika Serikat Joe Biden untuk mengakhiri perang terpanjang Amerika, yang diluncurkan setelah serangan 11 September 2001, mengatakan kekacauan itu disebabkan oleh kegagalan kepemimpinan Joe Biden.

Diplomat Amerika diterbangkan dengan helikopter ke bandara dari kedutaan mereka di distrik Wazir Akbar Khan yang dibentengi ketika pasukan Afghanistan, dilatih selama bertahun-tahun dan dilengkapi oleh AS dan lainnya dengan biaya miliaran dolar, menghilang begitu saja.

Di bandara Kabul, ratusan warga Afghanistan yang putus asa berusaha melarikan diri dari negara itu sedang menunggu penerbangan, beberapa menyeret barang bawaan melintasi landasan pacu dalam kegelapan sementara wanita dan anak-anak tidur di dekat koridor keamanan.

Sebuah sumber di bandara mengatakan beberapa bentrokan pecah di antara orang-orang yang tidak bisa mendapatkan tempat karena keberangkatan dihentikan.

Televisi lokal 1TV melaporkan beberapa ledakan terdengar di ibu kota setelah gelap, tetapi kota itu sebagian besar sunyi pada siang hari pada hari Minggu.

Kelompok bantuan Darurat mengatakan 80 orang yang terluka telah dibawa ke rumah sakitnya di Kabul, dengan kapasitas maksimum, dan hanya menerima orang-orang dengan cedera yang mengancam jiwa.

Dalam sebuah posting Facebook, Ghani mengatakan dia telah meninggalkan negara itu untuk menghindari bentrokan dengan Taliban yang akan membahayakan jutaan penduduk Kabul.

Dia tidak mengatakan di mana dia berada dan tidak jelas ke mana dia menuju atau bagaimana tepatnya kekuatan akan ditransfer setelah serangan kilat Taliban di Afghanistan.

Baca Juga: Kepergian AS dari Afghanistan Disamakan Seperti Perang Vietnam, Blinken Ngamuk

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menegaskan dalam wawancara dengan CNN hari Minggu (15/08/2021) bahwa bukan kepentingan Amerika Serikat untuk tetap berada di Afghanistan (Sumber: Straits Times via AFP)

Al Jazeera sebelumnya menunjukkan rekaman dari apa yang dikatakan komandan Taliban di istana kepresidenan dengan puluhan pejuang bersenjata.

Beberapa pengguna media sosial lokal di Kabul mencap Ghani pengecut karena meninggalkan mereka dalam kekacauan.

Sebuah tweet dari akun terverifikasi Kedutaan Besar Afghanistan di India mengatakan: "Kami semua membenturkan kepala karena malu."

Syariah
Banyak orang Afghanistan khawatir Taliban akan kembali ke praktik keras di masa lalu dalam penerapan syariah, atau hukum agama Islam.

Selama pemerintahannya dari tahun 1996 hingga 2001, perempuan tidak bisa bekerja dan hukuman seperti rajam, cambuk dan gantung diterapkan atas mereka.

Para militan berusaha untuk menampilkan wajah yang lebih moderat, berjanji untuk menghormati hak-hak perempuan dan melindungi baik orang asing maupun warga Afghanistan.

"Kami siap untuk berdialog dengan semua tokoh Afghanistan dan akan menjamin mereka perlindungan yang diperlukan," kata Naeem kepada Al Jazeera Mubasher TV.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mendesak Taliban dan semua pihak lain untuk menahan diri sepenuhnya, dan menyatakan keprihatinan khusus tentang masa depan perempuan dan anak perempuan di Afghanistan.

Pentagon mengizinkan tambahan 1.000 tentara untuk membantu mengevakuasi warga AS dan warga Afghanistan yang bekerja untuk mereka, kata seorang pejabat AS.

Negara-negara Eropa, termasuk Prancis, Jerman dan Belanda, juga mengatakan mereka bekerja untuk mengeluarkan warga negara mereka serta beberapa karyawan Afghanistan ke luar negeri.

Rusia mengatakan tidak perlu mengevakuasi kedutaannya untuk saat ini. Turki mengatakan kedutaannya akan melanjutkan operasi.

Baca Juga: Amerika Serikat Turunkan Bendera di Kedutaan Besarnya di Kabul, Evakuasi Seluruh Staf ke Bandara

Jajaran komandan kelompok Taliban beserta pengawal tampak di ruang kerja presiden Afghanistan. Kelompok Taliban telah sepenuhnya menguasai Kabul, ibukota Afghanistan, hari Minggu, 15 Agustus 2021. (Sumber: AP Photo/Zabi Karimi)

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menegaskan dalam wawancara dengan CNN hari Minggu (15/08/2021) bahwa bukan kepentingan Amerika Serikat untuk tetap berada di Afghanistan, dinyatakan ketika gerilyawan Taliban memasuki ibu kota Kabul.

Mr Blinken mengatakan Washington telah menginvestasikan miliaran dolar dalam rentang waktu empat pemerintahan Amerika Serikat, memberi mereka keuntungan atas Taleban, tetapi mereka tetap saja gagal untuk mengalahkan  Taliban.

"Faktanya, kami melihat kekuatan tidak mampu membela negara mereka sendiri," katanya. "Dan itu terjadi lebih cepat dari yang kita perkirakan."

Situasi sangat tegang namun kelompok Taliban diperintahkan untuk tidak melakukan kekerasan maupun pertempuran.

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV/Straits Times via Reuters


TERBARU