> >

Taliban Nyatakan Perang Sudah Usai, Harapkan Hidup Damai dan Tidak Ingin dalam Isolasi Internasional

Kompas dunia | 16 Agustus 2021, 09:24 WIB
Jajaran komandan kelompok Taliban beserta pengawal tampak di ruang kerja presiden Afghanistan. Kelompok Taliban telah sepenuhnya menguasai Kabul, ibukota Afghanistan, hari Minggu, 15 Agustus 2021. (Sumber: AP Photo/Zabi Karimi)

Baca Juga: Kepergian AS dari Afghanistan Disamakan Seperti Perang Vietnam, Blinken Ngamuk

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menegaskan dalam wawancara dengan CNN hari Minggu (15/08/2021) bahwa bukan kepentingan Amerika Serikat untuk tetap berada di Afghanistan (Sumber: Straits Times via AFP)

Al Jazeera sebelumnya menunjukkan rekaman dari apa yang dikatakan komandan Taliban di istana kepresidenan dengan puluhan pejuang bersenjata.

Beberapa pengguna media sosial lokal di Kabul mencap Ghani pengecut karena meninggalkan mereka dalam kekacauan.

Sebuah tweet dari akun terverifikasi Kedutaan Besar Afghanistan di India mengatakan: "Kami semua membenturkan kepala karena malu."

Syariah
Banyak orang Afghanistan khawatir Taliban akan kembali ke praktik keras di masa lalu dalam penerapan syariah, atau hukum agama Islam.

Selama pemerintahannya dari tahun 1996 hingga 2001, perempuan tidak bisa bekerja dan hukuman seperti rajam, cambuk dan gantung diterapkan atas mereka.

Para militan berusaha untuk menampilkan wajah yang lebih moderat, berjanji untuk menghormati hak-hak perempuan dan melindungi baik orang asing maupun warga Afghanistan.

"Kami siap untuk berdialog dengan semua tokoh Afghanistan dan akan menjamin mereka perlindungan yang diperlukan," kata Naeem kepada Al Jazeera Mubasher TV.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mendesak Taliban dan semua pihak lain untuk menahan diri sepenuhnya, dan menyatakan keprihatinan khusus tentang masa depan perempuan dan anak perempuan di Afghanistan.

Pentagon mengizinkan tambahan 1.000 tentara untuk membantu mengevakuasi warga AS dan warga Afghanistan yang bekerja untuk mereka, kata seorang pejabat AS.

Negara-negara Eropa, termasuk Prancis, Jerman dan Belanda, juga mengatakan mereka bekerja untuk mengeluarkan warga negara mereka serta beberapa karyawan Afghanistan ke luar negeri.

Rusia mengatakan tidak perlu mengevakuasi kedutaannya untuk saat ini. Turki mengatakan kedutaannya akan melanjutkan operasi.

Baca Juga: Amerika Serikat Turunkan Bendera di Kedutaan Besarnya di Kabul, Evakuasi Seluruh Staf ke Bandara

Jajaran komandan kelompok Taliban beserta pengawal tampak di ruang kerja presiden Afghanistan. Kelompok Taliban telah sepenuhnya menguasai Kabul, ibukota Afghanistan, hari Minggu, 15 Agustus 2021. (Sumber: AP Photo/Zabi Karimi)

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menegaskan dalam wawancara dengan CNN hari Minggu (15/08/2021) bahwa bukan kepentingan Amerika Serikat untuk tetap berada di Afghanistan, dinyatakan ketika gerilyawan Taliban memasuki ibu kota Kabul.

Mr Blinken mengatakan Washington telah menginvestasikan miliaran dolar dalam rentang waktu empat pemerintahan Amerika Serikat, memberi mereka keuntungan atas Taleban, tetapi mereka tetap saja gagal untuk mengalahkan  Taliban.

"Faktanya, kami melihat kekuatan tidak mampu membela negara mereka sendiri," katanya. "Dan itu terjadi lebih cepat dari yang kita perkirakan."

Situasi sangat tegang namun kelompok Taliban diperintahkan untuk tidak melakukan kekerasan maupun pertempuran.

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV/Straits Times via Reuters


TERBARU