> >

Indonesia dan Thailand Pertimbangkan Vaksin Penguat di Tengah Keraguan Atas Vaksin Sinovac

Kompas dunia | 9 Juli 2021, 01:05 WIB
Vaksin Covid-19 besutan Moderna. Indonesia dan Thailand sedang mempertimbangkan untuk memberikan suntikan ketiga atau vaksin Covid-19 penguat kepada pekerja medis yang divaksinasi dengan vaksin Covid-19 buatan Sinovac, seperti dilansir Straits Times, Kamis (07/07/2021).(Sumber: Mohssen Assanimoghaddam / dpa via AP)

BANGKOK/JAKARTA, KOMPAS.TV - Indonesia dan Thailand sedang mempertimbangkan untuk memberikan suntikan ketiga atau vaksin Covid-19 penguat kepada pekerja medis yang divaksinasi dengan vaksin Covid-19 buatan Sinovac, seperti dilansir Straits Times, Kamis (07/07/2021).

Langkah tersebut kemungkinan akan mengurangi kepercayaan publik terhadap produk China, yang selama ini menjadi alat vaksinasi Covid-19 utama mereka.

Beberapa negara termasuk Turki dan Uni Emirat Arab sudah mulai memberikan suntikan vaksin penguat kepada mereka yang divaksinasi dengan vaksin buatan China, di tengah kekhawatiran vaksin-vaksin tersebut mungkin tidak efektif melawan varian virus corona baru dan lebih menular.

Namun tantangan yang dihadapi Asia Tenggara jauh lebih besar. Banyak negara di kawasan ini sangat bergantung pada vaksin China karena terbatasnya pasokan produk Barat, dan runyamnya, negara-negara ini memiliki tingkat vaksinasi yang rendah kurang dari 10 persen.

Mereka juga terus memecahkan rekor kasus dan kematian baru, yang sebagian besar gara-gara virus Corona varian Delta yang sangat menular, sementara meningkatnya infeksi di antara pekerja medis meskipun mereka diimunisasi penuh dengan suntikan Sinovac makin memperlemah sistem perawatan kesehatan yang  sudah sudah tipis.

"Banyak dokter dan tenaga medis yang sudah dua kali divaksinasi tetapi bergejala sedang dan berat, bahkan meninggal dunia," kata Wakil Ketua IDI Slamet Budiarto kepada DPR, Senin (05/07/2021).

Indonesia sudah memvaksinasi jutaan petugas kesehatannya dengan suntikan vaksin Covid-19 buatan Sinovac dan ribuan dari mereka sekarang dinyatakan positif Covid-19.

"Sudah waktunya bagi pekerja medis untuk mendapatkan booster ketiga untuk melindungi mereka dari dampak varian baru yang lebih ganas dan mengkhawatirkan," kata Melki Laka Lena, wakil ketua komisi parlemen yang mengawasi kesehatan.

Baca Juga: Meski Tak Diakui Singapura, Ahli Imbau Masyarakat Tak Ragu Pakai Vaksin Sinovac

juru bicara vaksinasi nasional Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi (Sumber: Direktorat Jenderal P2P Kementerian Kesehatan)

Siti Nadia Tarmizi, pejabat dari Kementerian Kesehatan Indonesia, mengatakan sedang menunggu rekomendasi dari kelompok penasihat imunisasi dan Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia tentang penggunaan suntikan booster.

Sementara beberapa data dunia nyata menunjukkan vaksin Sinovac efektif terhadap rawat inap dan kasus Covid-19 yang parah, belum ada data terperinci tentang efektivitasnya terhadap varian Delta, yang pertama kali diidentifikasi di India.

Thailand, yang mengharapkan untuk menerima sumbangan 1,5 juta suntikan Pfizer-BioNTech dari Amerika Serikat akhir bulan ini, berencana untuk menggunakan vaksin buatan Pfizer untuk memvaksinasi tambahan 700.000 pekerja medisnya, yang sebagian besar sudah menerima dua suntikan Sinovac.

Pejabat kesehatan senior Udom Kachintorn mengatakan rencana itu ditujukan untuk meningkatkan kekebalan, karena varian Delta meningkatkan beban kasus dan sejumlah pekerja medis yang telah divaksinasi penuh dengan Sinovac menjadi terinfeksi.

Dokumen Kementerian Kesehatan Thailand yang bocor minggu ini menunjukkan pemerintah Thailand khawatir langkah tersebut mengirimkan sinyal yang salah kepada publik karena akan mengakui vaksin Sinovac tidak efektif.

"Ini pasti akan berdampak pada kepercayaan terhadap vaksin," kata Dicky Budiman, ahli epidemiologi di Griffith University Australia.

"Vaksin itu belum tentu tidak efektif, tetapi kemanjurannya menurun setelah enam bulan. Itu prediksi saya," katanya, merekomendasikan agar pihak berwenang mempertimbangkan suntikan booster sebagai solusi dan mengomunikasikan masalah dengan publik.

Baca Juga: Ketua Uji Klinis Sinovac Meninggal Dunia, Erick Thohir Sampaikan Duka

Seorang siswi mendapat suntikan vaksin Covid-19 Sinovac produksi PT Biofarma di SMAN 20 Jakarta, Kamis (1/7/2021). (Sumber: KOMPAS TV)

Pihak berwenang Thailand telah membela penggunaan vaksin tambahan dan mengumumkan rencana mereka untuk membeli lebih banyak.

"Jangan downgrade Sinovac meski kita tahu khasiatnya lebih rendah. Ini mengurangi jumlah pasien dengan kondisi kritis, dan kematian," kata Udom.

Dokter Indonesia juga mengakui bahwa Sinovac mungkin bukan vaksin terbaik di pasaran. Tetapi mereka mengatakan bahwa untuk saat ini, hanya itu yang mereka miliki dan itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

"Hingga saat ini, karena kami tidak dapat memproduksi (vaksin), kami tidak memiliki pilihan (lain)," kata Profesor Eka Julianta Wahjoepramono, dekan fakultas kedokteran Universitas Pelita Harapan di Indonesia.

“Sinovac adalah satu-satunya pilihan,” kata Prof Eka yang telah divaksinasi lengkap dengan vaksin Sinovac tetapi mendapat kasus Covid-19 yang parah bulan lalu.

Sinovac tidak membalas permintaan untuk memberikan komentar.

Keraguan tentang keefektifan vaksin China mengancam untuk melemahkan apa yang disebut "diplomasi vaksin" China, di mana Beijing berusaha meningkatkan pengaruh diplomatiknya di seluruh dunia.

China telah mengirimkan ratusan juta dosis suntikan Covid-19 yang dikembangkan secara lokal ke luar negeri.

Singapura minggu ini mengatakan orang yang menerima suntikan Sinovac dikeluarkan dari penghitungan total vaksinasi karena kurangnya data kemanjuran vaksin, terutama terhadap varian Delta yang menular.

"Kami tidak benar-benar memiliki dasar medis atau ilmiah atau memiliki data sekarang untuk menetapkan seberapa efektif Sinovac dalam hal infeksi dan penyakit parah di varian Delta," kata Menteri Kesehatan negara itu Ong Ye Kung.

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU