> >

Korea Utara Alami Krisis Pangan Parah, Kim Jong-Un Salahkan Bencana Banjir

Kompas dunia | 17 Juni 2021, 19:16 WIB
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un. (Sumber: Korean Central News Agency/Korea News Service via AP, File)

PYONGYANG, KOMPAS.TV - Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un akhirnya secara resmi mengakui bahwa negaranya dilanda kekurangan pangan. Hal itu diungkapkan olehnya dalam pertemuan dengan para pemimpin dunia.

“Situasi pangan untuk masyarakat saat ini semakin parah,” ujar Kim Jong-un dikutip dari BBC, Kamis (17/6/2021).

Ia menegaskan sektor pertanian mengalami kegagalan mencapai target dikarenakan bencana tbanjir, yang disebabkan angin topan tahun lalu.

Bencana banjir tersebut menyebabkan pertanian di Korea Utara mengalami kerusakan hebat.

Baca Juga: Kim Jong Un Ancam Fans K-Pop di Negaranya dengan Hukuman Penjara Hingga Eksekusi Mati.

Akibatnya harga-harga makanan pun melambung dan masyarakatnya pun banyak yang kelaparan.

Seperti dilaporkan NK News, harga satu kilogram pisang mencapai 45 dolar AS atau setara Rp645.000.

Kondisi itu diperparah dengan keputusan Pemerintah Korea Utara yang menutup perbatasannya karena Covid-19.

Hal itu membuat perdagangan Korea Utara dengan China menjadi anjlok.

Baca Juga: China Sukses Daratkan Tiga Astronotnya di Stasiun Luar Angkasa yang Tengah Dibangun

Selama ini Korea Utara bergantung pada China untuk makanan, bahan bakar dan pupuk.

Korea Utara sendiri tengah menghadapi sanksi internasional yang membuat mereka tersiksa, karena program nuklir yang dikembangkan di negara komunis itu.

Kim Jong-un membahas situasi pangan Korea Utara di Rapat Komite Pusat Partai Buruh yang dimulai minggu ini di Pyongyang.

Pada pertemuan tersebut, Kim Jong-un mengatakan bahwa industri nasional telah tumbuh seperempat kali dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Dianggap Ancaman, Kim Jong-Un Menyebut Budaya K-Pop sebagai Kanker Ganas

Pada bulan April, Kim Jong-un mengungkapkan kesulitan yang membayangi Korea Utara.

Ia pun menyerukan kepada para pejabat untuk melakukan "Pawai Sulit", yang menurutnya untuk membebaskan rakyat dari kesulitan.

"Pawai Sulit" adalah istilah yang digunakan pejabat Korea Utara, merujuk pada perjuangan negara selama kelaparan pada 1990-an, ketika runtuhnya Uni Sovyet meninggalkan Korea Utara tanpa bantuan penting.

Ketika itu diperkirakan sekitar tiga juta rakyat Korea Utara tewas kelaparan, meski tak diungkapkan jumlah yang resmi.

Penulis : Haryo Jati Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU