> >

Korban Tewas Serangan Terhadap Sekolah Putri Afghanistan Menjadi 50 Orang, Kebanyakan Anak Kecil

Kompas dunia | 9 Mei 2021, 16:50 WIB
Seorang siswa sekolah Afghanistan dirawat di rumah sakit setelah ledakan bom di dekat sebuah sekolah di barat Kabul, Afghanistan, Sabtu, 8 Mei 2021. (Sumber: AP Photo/Rahmat Gul)

KABUL, KOMPAS.TV - Korban tewas terbunuh dalam serangan bom di sebuah sekolah putri di Ibu Kota Afghanistan melonjak menjadi 50 orang. Sebagian besar mereka adalah murid perempuan berusia antara 11 dan 15 tahun.

Menurut Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan Tariq Arian, dikutip dari Associated Press, Minggu (9/5/2021), jumlah korban luka dalam serangan hari Sabtu itu juga meningkat menjadi lebih dari 100 orang.

Arian mengungkap, tiga ledakan di luar pintu masuk sekolah terjadi ketika para siswa pulang dari sekolah hari itu. Ledakan itu terjadi di lingkungan komunitas yang sebagian besar Syiah di bagian barat ibu kota.

Taliban membantah bertanggung jawab, dan mengutuk serangan tersebut..

Ledakan pertama datang dari kendaraan yang berisi bahan peledak, disusul dua ledakan lainnya, kata Arian, seraya menambahkan angka korban masih bisa bertambah.

Baca Juga: 30 Orang Tewas pada Serangan Bom di Sekolah Perempuan di Kabul, Afghanistan

Seorang siswa sekolah Afghanistan dioperasi di rumah sakit untuk mengeluarkan pecahan logam setelah ledakan bom di depan sebuah sekolah putri di barat Kabul, Afghanistan, Sabtu, 8 Mei 2021. (Sumber: AP Photo/Rahmat Gul)

Di ibu kota yang dilanda pemboman tanpa henti, serangan hari Sabtu kemarin termasuk yang terburuk. Kritik terhadap pemerintah meningkat karena kurangnya keamanan.

Ada juga kekhawatiran yang berkembang tentang kemungkinan lebih banyak terjadi kekerasan ketika AS dan NATO menyelesaikan penarikan militer terakhir mereka dari Afghanistan.

Serangan itu menargetkan etnis Hazara Afghanistan yang mendominasi lingkungan Dasht-e-Barchi barat, tempat pemboman terjadi. Kebanyakan etnis Hazara adalah Muslim Syiah.

Daerah tersebut dilanda kekerasan keji terhadap minoritas Syiah dan paling sering diklaim oleh afiliasi ISIS yang beroperasi di Afghanistan. Belum ada yang mengklaim pemboman hari Sabtu.

Kelompok Muslim Sunni radikal IS itu menyatakan perang terhadap Syiah Afghanistan. Tas ransel berlumuran darah dan buku sekolah berserakan di luar sekolah Syed Al-Shahda.

Di pagi hari, anak laki-laki menghadiri kelas di kompleks sekolah yang luas, dan di sore hari giliran anak perempuan yang pergi bersekolah.

Baca Juga: Taliban Rebut Distrik Penting di Afghanistan dari Tentara Pemerintah, Ribuan Warga Melarikan Diri

Sejumlah kerabat korban berupaya menggidentifikasi para korban tewas akibat serangan bom di sebuah sekolah perempuan di Kabul barat, Afghanistan, Sabtu (08/05/2021). (Sumber: AP Photo/Rahmat Gul)

Penduduk di daerah itu mengatakan ledakan itu memekakkan telinga.

Salah satu siswa yang lolos dari maut mengingat serangan bom itu, jeritan gadis-gadis itu, dan darah mereka yang berceceran.

“Saya saat itu bersama teman sekelas saya, kami sedang berjalan meninggalkan sekolah ketika tiba-tiba terjadi ledakan,” kata Zahra, 15 tahun, yang lengannya patah karena pecahan ledakan.

"Sepuluh menit kemudian ada ledakan lagi dan hanya beberapa menit kemudian ledakan lain," katanya. "Semua orang berteriak dan ada darah di mana-mana, dan saya tidak bisa melihat apa pun dengan jelas." Teman Zahra meninggal dalam serangan tersebut.

Di luar Rumah Sakit Muhammad Ali Jinnah, di lingkungan Dasht-e-Barchi, puluhan orang berbaris untuk menyumbangkan darah, sementara anggota keluarga memeriksa daftar korban yang dipasang di dinding.

Sebagian besar dari lusinan yang terluka dibawa ke Rumah Sakit bernama EMERGENCY untuk korban luka perang di ibu kota Afghanistan. "Hampir semua gadis dan wanita muda berusia antara 12 dan 20 tahun," kata Marco Puntin, koordinator program rumah sakit tersebut di Afghanistan.

Baca Juga: Kastaf Gabungan AS: Militer Afghanistan Berpeluang Kepayahan Melawan Taliban Sepeninggal Pasukan AS

Dua orang siswa sekolah di kawasan pemukiman warga minoritas Syiah yang terluka parah akibat serangan bom di Kabul barat, Jumat, (07/05/2021). (Sumber: AP Photo/Rahmat Gul)

Dalam pernyataan menyusul serangan itu, Rumah Sakit EMERGENCY mengatakan tiga bulan pertama tahun ini mengalami peningkatan 21 persen korban peperangan.

ISIS sebelumnya mengklaim serangan terhadap minoritas Syiah di daerah yang sama, tahun lalu mengklaim dua serangan brutal terhadap fasilitas pendidikan yang menewaskan 50 orang, kebanyakan dari mereka adalah pelajar.

Sebelumnya kelompok itu mengambil tanggung jawab atas pembunuhan yang ditargetkan terhadap tiga personel media wanita di Afghanistan timur.

Serangan itu terjadi beberapa hari setelah 2.500 hingga 3.500 tentara Amerika yang tersisa secara resmi mulai meninggalkan negara itu, yang akan pulang paling lambat 11 September.

Penarikan itu dilakukan di tengah kebangkitan kembali Taliban, yang menguasai lebih dari separuh Afghanistan.

Perwira tinggi militer AS mengatakan pada hari Minggu lalu, pasukan pemerintah Afghanistan menghadapi masa depan yang tidak pasti dan memiliki beberapa "kemungkinan hasil yang buruk" terhadap gerilyawan Taliban karena penarikan pasukan yang dipercepat dalam beberapa minggu mendatang.

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU