> >

Risiko Pembekuan Darah Akibat Covid-19 Lebih Tinggi Dibanding Efek Vaksinasi

Kompas dunia | 18 April 2021, 21:30 WIB
Ilustrasi vaksin Covid-19. (Sumber: Shutterstock.com)

LONDON, KOMPAS.TV - Penelitian terbaru menyebutkan, risiko pembekuan darah di otak akibat Covid-19 jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan vaksin.

Maxime Taquet dari Oxford's Department of Psychiatry, dalam penelitiannya terhadap 500.000 pasien Covid-19, menemukan bahwa pembekuan darah terjadi pada tingkat 39 banding 1 juta.

Jumlah tersebut jauh melampaui kasus pembekuan darah akibat penggunaan vaksin AstraZeneca yang ada di angka 5 banding 1 juta, dalam penelitian European Medicines Agency (EMA).

Baca Juga: Varian Baru Covid-19 Dianggap Berbahaya bagi Ibu Hamil, Perempuan Brasil Diimbau Tunda Kehamilan

Dalam studi pra-cetak yang telah dilakukan, para peneliti menyatakan bahwa risiko trombosis sinus vena serebral (CVST) adalah 8-10 kali lebih tinggi ketika seseorang terpapar Covid-19.

"Risiko terkena CVST setelah Covid-19 tampaknya jauh lebih tinggi dan signifikan daripada setelah menerima vaksin Oxford-AstraZeneca," ungkap Taquet.

Sedari awal Covid-19 merebak, Taquet menambahkan, pembekuan darah sejatinya telah menjadi ancaman serius sebab tingkat kematian yang disebabkannya mencapai 20 persen.

Baca Juga: Viral Pendukung Perdana Menteri India Kampanye Tak Gunakan Masker, Ungkap Cara Memusnahkan Covid-19

Tim peneliti dari Oxford University pun mengatakan, saat ini mereka tengah berusaha mendapatkan hasil studi yang objektif dengan bekerja secara terpisah dengan tim pengembang vaksin mereka, vaksin AstraZeneca.

Terlebih lagi, studi terbaru ini didasarkan pada database kesehatan Amerika Serikat (AS), yang mana telah penggunaan vaksin AstraZeneca telah dihentikan di sana.

Seperti yang diketahui, vaksin AstraZeneca sempat menjadi bahan perbincangan karena diduga menjadi penyebab kasus pembekuan darah.

Baca Juga: Masih Dalam Pandemi Covid-19, Pemakaman Pangeran Philip Berlangsung Sederhana

Selain itu, efek yang sama juga dijumpai pada vaksin buatan Johnson & Johnson (J&J) beberapa waktu terakhir ini.

AS kemudian menghentikan vaksinasi menggunakan vaksin J&J sejak Rabu (14/4/2021), sembari menunggu penelitian lebih lanjut terkait pembekuan darah.

Sedangkan di Eropa, penggunaan vaksin AstraZeneca juga mulai ditangguhkan.

Penulis : Aryo Sumbogo Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU