> >

Pemimpin Agung Iran Tolak Tawaran Negosiasi Wina,Sebut Tawaran Itu Arogan dan Tak Layak Dilihat

Kompas dunia | 15 April 2021, 03:00 WIB
Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khamenei saat menghadiri sebuah pertemuan di Teheran, Iran pada Rabu (14/4/2021). (Sumber: Office of the Iranian Supreme Leader via AP)

DUBAI, KOMPAS.TV – Pemimpin agung Iran menolak sejumlah tawaran awal dalam pembicaraan terkait kesepakatan nuklir Iran di Wina pada Rabu (14/4/2021). Ia bahkan menggambarkan sejumlah tawaran itu dengan “tak layak dilihat”, menyusul serangan sabotase terhadap fasilitas nuklir Iran beberapa hari lalu.

Komentar pedas itu dilontarkan oleh Ayatollah Ali Khamenei, pengambil keputusan tertinggi di negara Republik Islam Iran pada Rabu (14/4/2021), seiring digelarnya pembicaraan di Wina, Austria, terkait negosiasi kesepakatan nuklir Iran.

Baca Juga: Siapkan Daftar Sanksi AS Yang Harus Dicabut, Iran Ancam Akan Tingkatkan Program Nuklirnya

Pembicaraan itu sendiri berjalan kacau-balau seusai serangan melanda fasilitas nuklir Natanz milik Iran pada Minggu (11/4/2021). Israel dicurigai berada di balik serangan sabotase itu. Teheran membalasnya dengan pengumuman akan memperkaya uraniumnya hingga tingkat 60%.

“Tawaran-tawaran yang mereka sediakan biasanya arogan dan memalukan, dan tak layak dilihat,” kata Khamenei dalam pidatonya menyambut hari pertama bulan Ramadan di Iran.

Khamenei menyatakan dirinya tetap bersikap positif terkait para negosiator Iran dalam pembicaraan di Wina. Namun, ia mengkritik Amerika Serikat dan memperingatkan bahwa waktu bisa habis.

Baca Juga: Iran Tuduh Israel di Balik Padamnya Fasilitas Nuklir Mereka: Ini Aksi Terorisme!

“Pembicaraan itu seharusnya tidak menjadi pembicaraan yang membahas tentang gesekan yang terjadi,” ujar Khamenei seperti dikutip dari The Associated Press, Rabu (14/4/2021). “Mereka tidak seharusnya melakukan pembicaraan yang berlarut-larut dan menyeret berbagai pihak. Ini berbahaya bagi Iran.”

Presiden Iran Hassan Rouhani saat menghadiri pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Teheran, Iran pada Selasa (13/4/2021). (Sumber: Layanan Pers Kementerian Luar Negeri Rusia via AP)

Di hari yang sama sebelumnya, Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan bahwa generasi pertama alat sentrifugal IR-1 yang rusak akibat serangan sabotase itu akan segera diganti dengan sentrifugal IR-6 yang lebih canggih, yang mampu melakukan pengayaan uranium dengan lebih cepat.

Baca Juga: Menlu Iran Salahkan Israel Atas Sabotase Fasilitas Nuklir Natanz

“Anda ingin mengosongkan kedua tangan kami selama pembicaraan itu, tapi kini kedua tangan kami penuh,” ujar Rouhani, merujuk pada pembicaraan kesepakatan nuklir Iran di Wina. Kesepakatan itu hendak membatasi pengayaan uranium Iran hingga tingkat yang memungkinkan Iran membuat senjata nuklir. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat (AS) yang kini hendak bergabung kembali setelah mundur pada tahun 2018 di era Presiden Donald Trump, harus mencabut sanksi ekonomi terhadap Iran.

“60% pengayaan uranium adalah jawaban bagi aksi jahat Anda. Kami memotong kedua tangan Anda, satu dengan alat sentrifugal IR-6, dan lainnya dengan pengayaan uranium hingga tingkat 60%,” tambah Rouhani.

Baca Juga: Iran Janjikan Pembalasan Terhadap Serangan Kapal Militernya, AS dan Israel Diduga Pelaku

Rouhani juga menuding Israel berada di balik serangan sabotase di fasilitas nuklir Natanz.

“Rupanya ini kejahatan yang dilakukan oleh kaum Zionis. Jika Zionis menjahati negara kami, kami tentu akan bertindak,” katanya tanpa merinci.

Di Yerusalem saat memperingati Hari Pahlawan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membalas komentar Rouhani.

“Kita tidak boleh apatis atas ancaman perang dan pemusnahan dari mereka yang hendak melenyapkan kita,” tandasnya.

Penulis : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas TV


TERBARU