> >

Bill Gates Biayai Proyek Kontroversial Meredupkan Matahari

Kompas dunia | 30 Maret 2021, 18:47 WIB
Pendiri Microsoft Bill Gates membiayai sebuah proyek meredupkan matahari untuk menghadapi krisis iklim. (Sumber: Xinhua/Qin Lang)

KOMPAS.TV - Biliuner dan pendiri Microsoft, Bill Gates punya ide-ide kontroversial demi menghentikan krisis iklam yang membuat bumi makin panas.

Salah satunya Bill Gates menunjukkan ketertarikan pada proyek meredupkan cahaya matahari.

Bill Gates bahkan mendanai eksperimen yang berjalan di bawah Harvard University Solar Geoengineering Research Program.

Eksperimen ini untuk mempelajari kemungkinan menahan sinar matahari agar tidak mencapai permukaan bumi.

Geoengineering umumnya mengacu pada teknologi yang mampu mengubah kualitas fisik bumi dalam skala yang sangat besar.

Misalnya, penyemaian awan menggunakan pesawat agar menghasilkan hujan.

Baca Juga: Ditemukan Alasan Kota Pertama Dunia Hancur 4.000 Tahun Lalu, Populasi Berlebih dan Perubahan Iklim

Namun, proyek menahan sinar matahari adalah hal yang lebih ekstrem.

Bila terwujud, para peneliti nantinya akan menyebarkan partikel Calcium Carbonat (CaCO3) di lapisan atmosfer, tepatnya di stratosfer.

Debu-debu kimia itu nantinya akan menahan sebagian cahaya matahari dan meredupkan langit.

Dengan ini, harapannya bumi dapat mendinginkan suhu bumi.

Diperkirakan, cara ini dapat mengurangi suhu bumi sekitar 1,5 derajat celcius.

Proyek ini bakal membutuhkan dana hingga Rp144 triliun (US$10 miliar) tiap tahunnya.

Mengutip Nature, belum ada peneliti yang benar-benar mengetahui dampak proyek menahan cahaya matahari ini.

Proyek penelitian ini pun sempat tertahan karena banyak perdebatan seputar langkah ini.

Pihak kontra mengkhawatirkan risiko yang tak terduga seperti perubahan cuaca yang ekstrem.

Sementara, kalangan peduli lingkungan berpendapat, cara ini mengabaikan pola konsumsi dan produksi di seluruh dunia yang saat ini menyebabkan masalah lingkungan.

Baca Juga: Sekjen PBB Sambut Baik Kembalinya Amerika Serikat ke Dalam Traktat Perubahan Iklim Paris

Mengutip Forbes, suhu bumi pernah membeku pada tahun 1815.

Hal itu menyebabkan gagal panen dan bencana kelaparan.

Sementara, ilmuwan Inggris menyebut partikel aerosol di stratosfer dari letusan gunung berapi di Alaska dan Meksiko sebagai penyebab potensial kekeringan di wilayah Sahel Afrika. 

Frank Keutsch, salah seorang pimpinan riset proyek ini sendiri mengaku kaget saat pertama kali mendengar ide ini.

“Benar-benar gila. Aku bertanya pada diri sendiri. Saya seorang ahli kimia atmosfer, apa yang bisa saya lakukan?” kata Keutsch, dikutip dari Nature.

Bagaimana pun, Keutsch tetap bergabung memimpin proyek ini bersama ahli kimia atmosfer Harvard University James Anderson dan fisikawan eksperimental David Keith.

Meski terus mengerjakan proyek ini, Keutsch tetap menyadari bahayanya.

Baca Juga: Habitat Rusak, Populasi Gajah Hutan dan Gajah Sabana Afrika Kian Terancam!

“Kami sebenarnya tidak tahu apa yang akan dilakukannya, karena tidak ada (Calcium Carbonat) di stratosfer. Itu jelas lampu merah,” ujar Keutsch.

Sebab itu, ia masih terus melakukan penelitian.

Pada 2018 kelompok peneliti Harvard itu melakukan uji coba menyebarkan partikel Calcium Carbonat menggunakan dua balon udara.

“Penelitian lebih lanjut tentang ini dan metode serupa dapat mengarah pada pengurangan risiko dan meningkatkan kemanjuran metode geoengineering surya,” tulis Keith dan timnya dalam sebuah laporan penelitian pada 2017.

Penulis : Ahmad Zuhad Editor : Deni-Muliya

Sumber : Kompas TV


TERBARU