> >

Beberapa Negara Besar Uni Eropa Tangguhkan Penggunaan Vaksin AstraZaneca

Kompas dunia | 16 Maret 2021, 04:00 WIB
Vaksin Oxford-AstraZaneca. (Sumber: Associated Press)

BERLIN, KOMPAS.TV - Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol menjadi negara terbaru yang menangguhkan penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca, Senin (15/3/2021). Penangguhan ini dilakukan atas laporan terjadinya pembekuan darah yang berbahaya pada beberapa penerima vaksin.

AstraZeneca hanyalah satu dari tiga vaksin yang digunakan di benua Eropa. Tetapi meningkatnya jumlah negara yang menangguhkan penggunaan vaksin ini, menjadi kemunduran bagi upaya vaksinasi Uni Eropa.

Sebelumnya program vaksinasi massal di Eropa terganggu oleh kurangnya pasokan vaksin, sehingga tertinggal jauh dibandingkan vaksinasi massal yang dilakukan di Inggris dan Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: Korea Selatan Selidiki Kematian Dua Orang Setelah Disuntik Vaksin AstraZaneca

Menteri Kesehatan Jerman mengatakan keputusan untuk menangguhkan vaksin AstraZeneca diambil atas saran regulator vaksin negara itu, Institut Paul Ehrlich. Institut menyerukan penyelidikan lebih lanjut terhadap tujuh kasus pembekuan di otak pada orang yang telah divaksinasi.

“Keputusan hari ini adalah tindakan pencegahan murni,” kata Jens Spahn seperti dikutip dari the Associated Press.

Sedangkan Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan, negaranya juga akan menangguhkan pemberian vaksin AstraZaneca hingga setidaknya Selasa (16/3/2021) sore. Regulator obat Italia juga mengumumkan larangan sementara, dan Spanyol mengatakan akan menghentikan penggunaan vaksin selama dua minggu, sementara para ahli kembali meneliti keamanannya.

Baca Juga: PBB Setujui Vaksin AstraZaneca, Benarkah Negara Miskin Jadi Prioritas Penerima Vaksin?

AstraZeneca mengatakan, ada 37 laporan pembekuan darah dari lebih dari 17 juta orang yang divaksinasi di 27 negara Uni Eropa dan Inggris. Produsen obat tersebut mengatakan tidak ada bukti bahwa vaksin tersebut meningkatkan risiko penggumpalan darah.

Faktanya, insiden pembekuan darah jauh lebih rendah daripada yang terjadi secara alami pada populasi umum. Jumlah ini mirip dengan yang ditemukan pada vaksin Covid-19 yang berlisensi lainnya.

Penulis : Tussie-Ayu

Sumber : Kompas TV


TERBARU