> >

Intip Le-Bui, Sepeda Listrik dari Lombok Karya Anak Bangsa yang Tembus Pasar Internasional

News | 31 Juli 2021, 14:26 WIB
Gede Dijaya (51) dengan sejumlah sepeda listrik hasil rakitannya saat berkunjung ke Gili Trawangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Jumat (30/7/2021). (Sumber: Le-Bui)

GILI TRAWANGAN, KOMPAS.TV – Saat berkunjung ke Gili Trawangan di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk berdialog dengan warga terkait kasus sengketa lahan pada Jumat (30/7/2021), Gubernur NTB Zulkieflimansyah menyempatkan diri berkeliling area menggunakan sebuah sepeda listrik.

Tak disangka, sepeda listrik itu ternyata  hasil kreasi anak bangsa.

Adalah Gede Dijaya (51), sang pemilik usaha sekaligus perakit sepeda-sepeda listrik custom itu.

Sejak kecil, Gede sudah gemar naik sepeda.

Saat remaja, ia bahkan menunggang sepeda balap untuk pergi ke sekolahnya yang berjarak sekitar 15 km dari rumahnya di Bali saban hari.

Ide merakit sepeda listrik muncul di tahun 2015, saat Gede merasa fisiknya tak lagi mendukung hobinya bersepeda jarak jauh.

Ia pun menjajal dengan memasang electric kit pada sepedanya.

Hingga, manakala kelelahan usai bersepeda jarak jauh, ia pun tinggal mengaktifkan electric kit pada sepedanya, hingga tak perlu lagi mengayuh.

Baca Juga: Sepeda Listrik Made In Bandung

Singkat cerita, sepeda listrik rakitan pertamanya berhasil mengantarkannya ke satu workshop sepeda listrik di Nusa Dua, Bali di tahun 2016.

Di workshop itu, sebuah sepeda listrik buatan Rusia membuatnya takjub.

“Saya lihat waktu itu, ternyata ada sepeda listrik yang bisa lari 110 kilometer per jam!,” ungkap Gede penuh rasa tertarik.

Beruntung, produsen sepeda listrik Rusia itu kemudian meminjamkan sepeda listriknya selama 4 bulan pada Gede.

“Saya pelajari teknologinya, saya coba bikin dengan spek yang sama, tapi desainnya berbeda,” terang Gede saat ditemui Kompas.tv di Gili Trawangan, Jumat (30/7/2021).

Tak dinyana, rakitan Gede tersebut ternyata banyak dilirik para pencinta sepeda listrik.

Pesanan pun berdatangan. Sebagian besar konsumen Le-Bui berasal dari luar negeri, beberapa di antaranya bahkan merupakan pelanggan tetap, yakni Amerika Serikat, Australia dan Inggris.

“Mereka rata-rata tertarik dengan desain sepeda listrik yang saya buat,” aku Gede.   

Baca Juga: Sepeda Listrik! Dijamin Ga Bikin Anda Lemas

Di bawah bendera Le-Bui atau Lombok e-Bike Builder, Gede pun memproduksi sepeda listrik rakitannya sesuai permintaan konsumen.

Dengan kisaran waktu sekali pengisian daya baterai berkisar 4 – 6 jam, sepeda listrik produksi Le- Bui mampu menempuh jarak puluhan kilometer.

Kapasitas baterai yang besar, rupanya jadi persyaratan yang rata-rata diminta para konsumen Le-Bui.

“Karena kebanyakan konsumen saya maunya sepeda listrik yang bisa lari di atas 100 km per jam, jadi kapasitas baterainya harus besar,” terang Gede.

Salah satu sepeda listrik rakitan Le-Bui, tipe Cebonx yang memiliki spek dinamo 1000 W dan baterai 48 V / 25 Ah. Sepeda listrik ini dibandrol di harga Rp40 jutaan. (Sumber: Le-Bui)

Harga sepeda listrik Le-Bui bervariasi, mulai dari  Rp17 juta hingga Rp65 juta per unit, bergantung pada model dan spek yang dimiliki.

Sepeda listrik yang dikendarai Bang Zul, begitu Gubernur NTB akrab dipanggil, misalnya, memiliki spek dinamo 1000 W dan baterai 48 V / 25 Ah.

Dibandrol dengan harga Rp40 jutaan, tipe sepeda listrik yang diberi nama Cebonx ini mampu melaju dengan kecepatan 70 – 80 km per jam.

Baca Juga: Terobosan Baru di Kota Paris: Sepeda Listrik!

Sejak awal tahun, seusai pendataan UMKM yang terdampak pandemi, Dinas Perindustrian Pemprov NTB pun menggandeng Le-Bui untuk menjajaki kerja sama produksi sepeda listrik secara massal.

Tawaran ini, disambut baik oleh Gede.

Di masa depan, Gede berharap, penggunaan sepeda listrik dapat terus meningkat.

Apalagi jika didukung dengan pembangunan prasarana yang memadai seperti stasiun pengisian daya baterai, misalnya.

“Ya, mudah-mudahan makin banyak yang menggunakan sepeda listrik. Apalagi, penggunaan sepeda listrik ini, selain lebih ekonomis, juga lebih ramah lingkungan,” pungkasnya.

Penulis : Vyara Lestari Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV


TERBARU