> >

Disebut Sebabkan Pengungsi Gunung Semeru Trauma, Ini Dampak Hujan Abu bagi Lingkungan dan Kesehatan

Tips, trik, dan tutorial | 5 Desember 2022, 18:58 WIB
Kabupaten Lumajang telah berada di pos pantau yang berjarak sekitar 12 kilometer dari puncak Gunung Semeru, abu vulkanik mengarah kes selatan. (Sumber: pvmbg)

LUMAJANG, KOMPAS.TV - Bupati Lumajang Thoriqul Haq mengungkapkan, pengungsi erupsi Gunung Semeru masih mengalami trauma akibat awan panas guguran yang terjadi pada Minggu (4/12/2022) kemarin.

"Per tadi malam saya ke tempat pengungsian, yang utama mereka (pengungsi) masih trauma," ungkap Thoriq dalam program Sapa Indonesia Pagi Kompas TV, Senin (5/12/2022) 

Meski tinggal di daerah atau wilayah zona kuning dan hijau, kata dia, masyarakat masih khawatir karena trauma dengan kondisi gelap gulita akibat hujan abu dampak erupsi Gunung Semeru tahun 2021.

"Kejadian tahun lalu ketika hujan abu dan menjadikan wilayahnya gelap gulita, itu yang membuat mereka masih khawatir," kata Thoriq.

Baca Juga: Update Erupsi Gunung Semeru: Sebagian Pengungsi sudah Kembali ke Rumah

Melansir dari Kompas.com, hujan abu atau jatuhan piroklastik terjadi ketika letusan gunung berapi membentuk asap yang sangat tinggi. Ketika energi untuk mendorong asap habis, abu akan menyebar sesuai arah angin menuju permukaan Bumi. 

Hasil penelitian menunjukkan abu vulkanik mengandung aluminium, silika, kalium, dan besi. Abu ini merupakan partikel batuan gunung berapi yang hancur hingga berukuran kurang dari 2 milimeter. Namun, bukan tidak mungkin material mengandung bongkahan berukuran lebih dari 2 milimeter.

 

Penulis : Nadia Intan Fajarlie Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV/Kompas.com


TERBARU