> >

Beragam Kesalahan yang Sering Terjadi saat Mengecat Tembok Rumah

Tips, trik, dan tutorial | 29 September 2022, 01:05 WIB
Praktik mengecat. Ada sejumlah kesalahan yang tak jarang dilakukan saat melakukan pengecatan tembok rumah, termasuk persentase pencampuran dan kelembaban permukaan. (Sumber: Kompas TV/Kurniawan Eka Mulyana)

YOGYAKARTA, KOMPAS.TV – Ada sejumlah kesalahan yang tak jarang dilakukan saat melakukan pengecatan tembok rumah, termasuk persentase pencampuran dan kelembaban permukaan.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan memuaskan dalam pengecatan tembok, hal utama yang harus diperhatikan adalah kesiapan media atau permukaan tembok itu.

Sebab, 90 persen pengecatan bermasalah berawal dari media yang belum siap.

“Cara mengecat yang benar, media harus sudah siap. Biasanya pengecatan bermaasalah 90 persen dari media yang belum siap,” kata Ananto Prasetio, Area Sales Coordinator Jawa Tengah dan DIY PT Jotun Indonesia, di Yogyakarta, Rabu (28/9/2022).

“Misalnya kalau tembok masih basah, atau kandungan garamnya masih tinggi. Tentunya kalau dipaksa untuk dicat, akan bermasalah.”

Menurutnya, permukaan tembok siap untuk dicat setelah 30 hari seusai pengacian, tapi ada faktor lain yang memungkinkan lebih dari itu, contohnya kelembaban udara di dataran tinggi.

“Kalau lembab, catnya akan berubah warna, kayak ngompol-ngompol, misalnya warna aslinya pink, tapi di beberapa tempat jadi merah.”

Kesalahan lain yang sering terjadi, lanjut dia, ada pada proses pencampuran cat dengan air. Seharusnya penambahan air hanya lima persen dari volume cat.

Tapi, tak jarang ada yang mencampur lebih dari itu, dengan harapan semakin ditambah air maka semakin irit.

“Kenyataannya tidak. Justru daya tutupnya berkurang sehingga harus mengecat beberapa kali.”

“Bahkan malah ongkosnya tukang menjadi semakin banyak, karena harus mengecat berulang kali,” tuturnya.

Baca Juga: Ini Tips Membeli Saham dari Dosen Unair, Waspadai Pengaruh Influencer

Jika itu terjadi, lanjut dia, cat di permukaan tembok harus dikerok sampai permukaan acian terlihat, kemudian ditunggu hingga kelembaban berkurang, dan dilakukan pengecatan ulang.

Kesalahan selanjutnya adalah pada pemilihan dempul, yang seharusnya menggunakan dempul mengandung semen.

“Kalau menggunakan dempul yang campuran tepung dan lem, itu tidak senyawa dengan semen. Kalau dipaksakan, cat akan terkupas, dan yang disalahkan adalah catnya.”

Berkaca pada kesalahan-kesalahan yang kerap terjadi, pihaknya pun menggelar pelatihan untuk puluhan tukang cat beserta mandor bangunan di Yogyakarta dan sekitarnya.

Pelatihan tersebut dilaksanakan selama dua hari, yakni Rabu (28/9) dan Kamis (29/9) di Hotel Horison Riss Yogyakarta.

Pelatihan yang dinamakan Program Master Painter ini bertujuan mengedukasi para tukang cat, baik secara teori maupun praktis melalui aplikasi.

Ia berharap, melalui pelatihan ini para tukang tahu cara penggunaan cat yang baik, persiapan permukaan yang benar, cara penyimpanan, juga metode keselamatan yang sesuai bagi mereka.

Selain membekali dengan pelatihan teknis, namun para tukang cat juga diajarkan cara memadupadankan inspirasi warna dan cara berkomunikasi kepada para konsumen mereka.

“Kami percaya bahwa para tukang cat memiliki peran yang penting dalam menjembatani Jotun dengan para konsumen," lanjutnya.

Mereka, lanjut dia, adalah orang pertama yang akan di dengar oleh para konsumen dalam berkonsultasi tentang produk cat yang dibutuhkan, termasuk bertanya mengenai warna, dan juga dipercaya dalam menjalankan proyek rumah mereka.

Baca Juga: Jangan Sembarangan! Berikut Tips Memilih Klinik Kecantikan agar Terhindar dari Efek Samping

"Sehingga sangat penting membekali para tukang cat ini dengan skill dan pengetahuan, sehingga mereka bisa menjadi tukang cat yang berkualitas di mata konsumen mereka," tambahnya.

Ia berharap agar para tukang cat dan mandor bangunan dapat mendapatkan pengetahuan yang terbaik tentang cat.

“Mereka juga akan diberikan satu buah alat pengukur kelembaban. Supaya saat mereka mengecek kondisi tembok bukan cuma dengan perkiraan.”

Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV


TERBARU