> >

Mengenal Makanan Syubhat dan Doa Setelah Memakannya

Panduan | 18 April 2021, 21:40 WIB
Ilustrasi godaan makanan tidak sehat. Makanan manis mengandung kadar gula tinggi. (Sumber: Shutterstock)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Di dalam Alquran kita dianjurkan untuk bisa membedakan makanan yang halal dan haram. Umat Islam diwajibkan untuk mengonsumsi makanan halal lagi baik.

Sedangkan Rasulullah SAW bersabda orang yang memakan makanan haram, tubuhnya tidak akan masuk surga.

Di antara kedua hukum tersebut ada hukum syubhat yakni makanan yang tidak jelas hukum halal dan haramnya.  Makanan menjadi syubhat ketika kita ragu-ragu terhadap status makanan tersebut.

Misalnya saat berada di daerah minoritas Muslim, dihadapkan dengan makanan tak lazim, datang ke warung yang masih asing, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Gerakan Sholat Berpengaruh Pada Kesehatan Tubuh

Dilansir dari laman Nadhlatul Ulama (NU) Rasulullah melarang umatnya untuk mengonsumsi makanan yang syubhat seperti dalam hadits berikut.

... ( )

“Barang siapa berada dalam perkara syubhat maka sama halnya ia berada dalam keharaman.” (HR al-Bukhari Muslim).

Namun jika telanjur memakan makanan yang ragu-ragu hukumnya, Syekh Afdhaluddin al-Azhari menyarankan doa supaya terhindar dari dosa Syubhat.

   

“Ya Allah jika makanan yang saya makan ini halal, maka luaskanlah rezekinya (orang yang memberi makan) dan balaslah dengan kebaikan. Dan jika makanan ini adalah haram atau syubhat maka ampunilah aku dan dia, dan jauhkanlah para penerima konsekuensi (atas dosanya sendiri) dariku kelak di hari kiamat dengan kasih sayang-Mu, wahai Allah yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”

Baca Juga: Hukum Mencium Istri Saat Puasa, Bolehkah?

Berikut doa setelah makan makanan Syubhat dari Syekh Sya’rani.

     

“Ya Allah jagalah aku dari makanan ini. Jika engkau tidak menjagaku maka jangan tinggalkan makanan ini berada di perutku. Jika engkau jadikan makanan tetap berada dalam perutku maka jagalan aku dari kemaksiatan yang timbul karenanya. Jika engkau tidak menjagaku dari maksiat, maka terimalah tobatku, dan jauhkanlah para penerima konsekuensi (atas dosanya sendiri) dariku. Jika engkau tidak menerima tobatku dan menjauhkan mereka dariku, maka berikanlah aku kesabaran menghadapi siksa, wahai Allah yang Maha Penyayang di antara para penyayang” (Syekh Nawawi al-Bantani, Qami ath-Thughyan, Indonesia: Haramain, hal. 12).

Penulis : Dian Nita Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU