> >

Erick Thohir Ngaku Sering Diancam Sejak Muncul Kasus Asabri dan Jiwasraya: Sudah Makanan Sehari-hari

Bumn | 19 Juni 2020, 20:05 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir (Sumber: ANTARA FOTO)

JAKARTA, KOMPAS TV - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, mengaku sering mendapat ancaman setelah muncul kasus dugaan korupsi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero).

Namun, mantan bos Inter Milan itu tak gentar meski terus diancam. Erick mengatakan, tetap berusaha tenang dan tetap fokus bekerja tulus dan sepenuh hati membenahi BUMN.

"(Ancaman) sudah menjadi makanan sehari-hari. Apalagi sejak ada Jiwasraya dan Asabri," kata Erick dalam sebuah acara diskusi di Jakarta Selatan, Jumat (17/1/2020).

Baca Juga: Pertahankan Nicke Widyawati Jadi Dirut Pertamina, Erick Thohir: Saat Ini Pilihan yang Terbaik

Menurut Erick, ancaman yang datang umumnya karena persoalan perombakan-perombakan yang ia lakukan pada direksi sebuah BUMN. Selain itu, juga kasus-kasus atau skandal yang menimpa BUMN.

Erick mengungkapkan bahwa dalam memilih direksi BUMN, dia tak hanya menggunakan opini dari internal BUMN, namun juga melibatkan menteri-menteri terkait sehingga penilaian yang diberikan menjadi lebih luas.

Hak tersebut ia lakukan guna menentukan serta memilih jajaran direksi yang tepat di perusahaan pelat merah itu.

Erick mencontohkan, dalam memilih direksi BUMN Karya, misalnya, dia harus berkonsultasi dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono.

Baca Juga: Resmikan 4 Stasiun Terpadu di Jakarta, Erick Thohir: Saya Gembira Indonesia Bukan Bangsa Wacana

“Kita melibatkan menteri terkait (dalam pemilihan direksi BUMN), karena tidak mungkin (direksi) BUMN Karya tidak punya hubungan baik dengan Menteri PUPR,” ujar Erick dalam acara Ngopi Yuk, Kamis (18/6/2020), dikutip dari Kompas.com.

Selain menteri terkait, Erick menambahkan, dirinya juga kerap mempertimbangkan dan mendengar masukan dari pihak swasta.

“Saya mendengar pasar. Kalau membangun ekosistem baik ya harus diterima pasar,” kata Erick.

Erick menegaskan, tujuan ia melakukan perombakan untuk membangun sistem BUMN yang lebih transparan dan bisa menghasilkan pemasukan untuk negara yang lebih besar. 

Penulis : Tito-Dirhantoro

Sumber : Kompas TV


TERBARU