> >

Selain Tutup JD.ID di Indonesia, Ternyata JD.com Juga Setop Usaha di Thailand

Ekonomi dan bisnis | 31 Januari 2023, 11:26 WIB
Gerai offline JD.ID Electronic Store AEON Mall Sentul City. Platform dagang elektronik asal China JD.com mengumumkan penutupan layanan di Indonesia dan Thailand. (Sumber: Kompas.tv/Ant)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Selain di Indonesia, ternyata JD.com yang merupakan induk usaha dari JD.ID, teryata juga menutup tokonya yang berada di Thailand. Mengutip dari Antara, Selasa (31/1/2023), pihak JD.com mengatakan operasional e-commerce di Thailand akan berakhir pada 3 Maret 2023.

Sedangkan JD.ID akan berhenti beroperasi pada 31 Maret 2023. Platform niaga JD.com di Indonesia dan Thailand juga dilaporkan berhenti menerima pesanan per 15 Februari 2023.

JD.com tidak menjelaskan alasan penutupan Thailand, tetapi juru bicara mengatakan mereka akan tetap melayani pasar global, termasuk Asia Tenggara, melalui infrastruktur rantai pasok.

JD.com beroperasi di Indonesia sejak 2015 dengan nama JD.ID. Sementara di Thailand, JD.com membuat perusahaan patungan dengan ritel terbesar di negara itu, Central Group, pada 2017.

Baca Juga: Kabar Gembira! Seleksi CPNS Tahun 2023 Ini Bisa untuk Masyarakat Umum

Sebelum menutup usahanya, JD.ID sudah lebih dulu melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 200 karyawannya. Head of Corporate Communications & Public Affairs JD.ID Setya Yudha Indraswara mengatakan, jumlah karyawan yang di PHK sama dengan 30 persen dari total seluruh pegawai.

"Kami memangkas sekitar 200 karyawan atau setara 30 persen dari total pekerja JD.ID. Langkah tersebut diambil perusahaan untuk menjawab tantangan ekonomi global serta perubahan bisnis digital yang sangat cepat," kata  Setya dalam siaran persnya kepada media, Selasa (13/12/2022).

 

“Langkah adaptasi perlu diambil perusahaan untuk menjawab tantangan perubahan bisnis yang sungguh cepat belakangan ini," ujarnya.

Menurutnya, PHK karyawan adalah upaya dari perampingan perusahaan. Sehingga dapat terus bergerak menyesuaikan dengan perubahan.

Baca Juga: Pesawat Komersial Terbesar di Dunia Mau Mendarat di Bali, Ini Persiapan Kemenhub

Ia menyampaikan, JD.ID dihadapkan pada tantangan kenaikan suku bunga acuan bank sentral dan masih berlangsungnya gejolak geopolitik antara Rusia dan Ukraina.

Bukan hanya JD.ID, Satya menyebut hal itu juga berdampak pada bisnis startup dan e-commerce keseluruhan.

Banyaknya e-commerce yang bermunculan juga membuat JD.ID harus waspada dan menyusun strategi agar dapat bertahan. Ia juga memastikan seluruh karyawan yang di PHK mendapatkan hak-haknya.

"JD.ID tetap berkomitmen untuk terus memberikan berbagai dukungan kepada 30 persen karyawan yang terdampak PHK. Sejumlah dukungan yang diberikan ialah dengan tetap memberikan manfaat asuransi serta memberikan dukungan talent promoting, serta hak-hak lain yang sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku," tutur Satya.

Baca Juga: JD.ID Diskon Gede-gedean, Cuci Gudang Sebelum Tutup Akhir Maret

Seperti diketahui, sepanjang tahun ini JD.ID berarti sudah melakukan 2 kali PHK. Di mana PHK yang pertama dilakukan pada Mei 2022 lalu.

JD.ID pertama kali beroperasi di Indonesia pada November 2015. E-commerce tersebut menawarkan mulai dari produk untuk ibu dan anak, smartphones, perangkat elektronik, hingga produk luxury. Jumlah produk yang ditawarkan awalnya kurang dari 10.000 SKU pada tahun 2015 menjadi sekitar 100.000 SKU pada akhir tahun 2016.

Pihak JD.ID juga menyediakan jasa pengiriman yang menjangkau 365 kota di seluruh Indonesia dengan ribuan armada yang siap mengantarkan langsung kepada para pelanggan JD.ID.

Penulis : Dina Karina Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Antara, Kompas TV


TERBARU