> >

Sampaikan Duka Cita, PT GNI Pastikan Korban Meninggal akibat Bentrokan Karyawan Ditangani Baik

Ekonomi dan bisnis | 17 Januari 2023, 18:29 WIB
PT Gunbuster Nickel Industri (PT GNI) sebagai salah satu perusahaan smelting terkemuka di Indonesia yang berdiri sejak tahun 2019. Perusahaan berdiri di di Morowali Utara, Sulawesi Tengah. (Sumber: Dok. PT GNI)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Direksi PT Gunbuster Nickel Indonesia (GNI) menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya dua karyawan kontraktor GNI saat bentrokan. 

Dalam siaran persnya, direksi PT GNI menyatakan perusahaan telah melakukan penanganan terhadap korban dan telah berkoordinasi dengan pihak terkait dalam rangka mengevakuasi dan menangani korban.

Aksi demonstrasi pada Sabtu (14/1/2023) yang berakhir ricuh, berdampak bagi perusahaan dan masyarakat sekitar lokasi proyek GNI.

"Timbul kerugian materiel, imateriel, hingga jatuhnya dua korban jiwa dan sejumlah orang yang luka-luka," tulis PT GNI dalam siaran persnya, dikutip Selasa (17/1/2023).

Baca Juga: Smelternya Diresmikan Jokowi pada 2021, PT GNI Punya 11.000 TKI dan 1.300 TKA

Dua korban jiwa tersebut diketahui merupakan satu warga negara Indonesia dan seorang warga negara Tiongkok. Keduanya merupakan karyawan kontraktor GNI.

Saat ini, pihak kepolisian melakukan penahanan terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam aksi demonstrasi yang berakhir ricuh tersebut.

"Menimbang saat ini proses investigasi mendalam masih berlangsung dan sedang dilakukan oleh aparat penegak hukum, perusahaan mengimbau agar masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh oknum-oknum yang diduga ingin mengganggu ketenteraman dan keamanan usaha GNI di Kabupaten Morowali Utara," tulis PT GNI.

PT GNI menegaskan pemberitaan terkait pemukulan atau penganiayaan tenaga kerja asing asal Tiongkok terhadap tenaga kerja Indonesia serta isu adanya kekerasan terhadap pekerja perempuan di GNI adalah informasi yang tidak benar.

Baca Juga: Situasi Terkini PT GNI setelah Rusuh Maut Antarkaryawan, Dijaga TNI-Polri

Perusahaan meminta agar masyarakat berhati-hati dalam mengolah informasi atau berita yang beredar, simpang siur dan berpotensi menimbulkan persepsi yang keliru.

Penulis : Johannes Mangihot Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU